Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apa Itu Vuvuzela Terompet yang Dilarang FIFA saat Piala Dunia

Apa Itu Vuvuzela Terompet yang Dilarang FIFA saat Piala Dunia Terompet Vuvuzela dari Afrika. ©REUTERS/Kai Pfaffenbach

Merdeka.com - Federasi sepak bola dunia (FIFA) melarang penggunaan vuvuzela di dalam stadion. Termasuk untuk Piala Dunia 2022 di Qatar. Pasalnya, terompet yang biasa ditiupkan suporter asal Afrika Selatan itu membuat berisik dan mengganggu jalannya pertandingan.

Sebelumnya, vuvuzela masih boleh masuk stadion pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Suporter tuan rumah tidak henti-henti membunyikan alat tersebut. Menurut mereka, cara itu merupakan tradisi dalam mendukung kesebelasan kesayangannya itu.

Namun demikian, penggunaan vuvuzela dianggap mengganggu jalannya pertandingan. Termasuk juga suporter lain yang merasa bising dengan bunyian vuvuzela. Lantas tak heran jika akhirnya menuai kritik agar tidak masuk ke dalam stadion.

Penggunaan Vuvuzela yang berisik di Piala Dunia 2010 menuai berbagai protes. Salah satu pihak yang mengajukan protes adalah Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA).

Melalui presidennya Motoaki Inukai, JFA meminta agar FA Afrika Selatan melarang penggunaan Vuvuzela. Inukai juga melayangkan protesnya ke presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter.

Tak hanya JFA, beberapa ahli di bidang kesehatan pun ikut mengomentari penggunaan Vuvuzela di Piala Dunia 2010. Menurut Dr. Ruth Mc Nerney suporter yang meniupkan Vuvuzela perlu punya etika untuk tidak terlalu dekat mengingat penularan penyakit sangat bisa terjadi.

Narasi penolakan terhadap Vuvuzela tentu saja ditentang oleh suporter Afrika Selatan. Mereka dengan tegas menolak adanya pelarangan terhadap Vuvuzela yang menjadi ciri khas Afrika Selatan.

Salah satu suporter Afrika Selatan, Freddie Maake bahkan berbicara lantang terhadap narasi pelarangan tersebut. “Saya akan menjadi orang pertama yang ditangkap jika Vuvuzela dilarang. Jika tidak diizinkan masuk stadion, itu berarti kami semua tidak akan masuk kedalam” ujar Freddie dikutip dari Goal.

Freddie juga menyindir beberapa pihak yang menolak adanya Vuvuzela di Piala Dunia 2010, salah satunya JFA. Freddie mengatakan Vuvuzela adalah simbol bagi masyarakat Afrika Selatan, layaknya karate di Jepang.

Banjir kritik mengenai pelarangan Vuvuzela akhirnya direalisasikan oleh FIFA. Namun bukan saat Piala Dunia 2010, FIFA melakukannya menjelang perhelatan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Vuvuzela jelas sangat mengganggu dengan suara berisiknya. Tindakan pelarangan diambil sebagai upaya untuk memberikan rasa nyaman bagi suporter lain maupun pemain yang sedang fokus dalam laga.

Vuvuzela yang masuk dalam benda terlarang FIFA juga berpotensi menjadi senjata yang bisa melukai. Hingga saat ini Vuvuzela dilarang di sepak bola Eropa dan beberapa cabang olahraga lainnya.

(mdk/hrs)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP