Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tips Jauhkan Si Kecil dari Covid-19 Varian Delta

Tips Jauhkan Si Kecil dari Covid-19 Varian Delta Anak-anak. ©2012 Merdeka.com/Shutterstock/wavebreakmedia ltd

Merdeka.com - Semakin tingginya kasus positif covid-19 yang terjadi pada anak, orangtua perlu waspada menghadapi penyebaran covid-19, terlebih dengan adanya varian delta yang diklaim lebih cepat menular dibanding varian yang lain.

Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia sebanyak 12,5% kasus positif COVID-19 di Indonesia merupakan anak-anak usia 0-18 tahun. Dengan 3-5% anak yang positif COVID-19 meninggal dunia dan 50% di antaranya adalah balita.

Berdasarkan data tersebut, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat kematian anak akibat covid-19 tertinggi di dunia. Terlebih setelah masuknya covid-19 varian delta ke Indonesia.

Meski dari data tersebut terlihat mengkhawatirkan,namun jangan sampai berlebihan agar orangtua dapat memikirkan cara terbaik untuk melindungi si kecil dari covid-19.

Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan untuk menambah perlindungan bagi anak di rumah, seperti dilansir dari Fimela.com:

1. Membatasi anak untuk melakukan aktivitas di luar rumah dan hindari kerumunan di ruang publik.

2. Jika terpaksa membawa anak keluar rumah, anak 2-18 tahun wajib menggunakan masker dan menerapkan jarak fisik 2 meter dengan orang-orang lainnya. Jika memungkinkan, kenakan face shield sebagai bentuk perlindungan maksimal.

3. Berikan pengertian kepada anak untuk tidak terlalu sering memegang mulut, mata, dan hidung. Jika baru pulang dari luar rumah, segera mandi dan bersihkan barang-barang.

4. Jauhkan anggota keluarga yang sakit dari anak, bila perlu lakukan isolasi pada anak untuk menjauhkan diri dari kerabat yang sedang sakit tersebut dan menghindari risiko paparan penyakit.

5. Ketika anak terpapar penyakit lain, orangtua harus memikirkan opsi lain selain ke rumah sakit. Kehadiran telemedicine bisa menjadi solusi bagi masyarakat atau orangtua yang ingin berkonsultasi dengan dokter dan memberikan penanganan pertama bagi anak.

Namun, orangtua juga harus memahami bahwa dengan membatasi ruang anak untuk melakukan kegiatan fisik dapat mempengaruhi kesehatan mental anak.

“Saat ini, para orangtua juga dituntut untuk dapat mengenali tanda ketika sang anak mengalami tekanan emosional karena pandemi. Sebab, kesehatan mental pada anak masih kerap terabaikan karena gejalanya yang tidak mudah untuk dikenali. Sebagai orangtua, kita bisa mulai mengajak anak untuk berbicara tentang apa yang mereka rasakan untuk membantu menjaga kesehatan mental mereka,” tutur dr. Irwan Heriyanto selaku Chief of Medical Halodoc.

Ada tujuh tanda stres pada anak yang perlu dikenali orangtua di tengah pandemi, di antaranya:

1. Rewel dan lekas marah, lebih mudah terkejut dan menangis, dan lebih sulit untuk dihibur

2. Tertidur dan lebih sering terbangun di malam hari

3. Kecemasan perpisahan, tampak lebih melekat, menarik diri, atau ragu-ragu untuk mengeksplorasi

4. Memukul, frustrasi, menggigit, dan amukan yang lebih sering atau intens

5. Hilangnya minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati

6. Perubahan nafsu makan, berat badan atau pola makan, seperti tidak pernah lapar atau makan sepanjang waktu

7. Masalah dengan memori, pemikiran, atau konsentrasi

Jaga selalu kesehatan keluarga, terutama si kecil. Dan selalu terapkan protokol kesehatan dimanapun berada, serta segera vaksinasi jika anda berkesempatan melakukannya.

Sumber: Fimela.comReporter: Vinsensia Dianawanti

(mdk/ttm)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP