Hari Kartini 2026, Wamen Isyana Soroti Tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia

Pada Hari Kartini 2026, Wamen Isyana mengamati kemajuan signifikan yang dicapai oleh perempuan. Meskipun demikian, angka kematian ibu masih tetap tinggi.

Benedikta Desideria
Oleh Benedikta Desideria - Reporter
Hari Kartini 2026, Wamen Isyana Soroti Tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia
Wakil Menteri (Wamen) Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Isyana Bagoes Oka. (© 2026 Liputan6.com)

Pada Hari Kartini 2026, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Isyana Bagoes Oka menegaskan bahwa perempuan-perempuan Indonesia kini telah menunjukkan peran aktif di berbagai sektor, tidak hanya di ranah domestik.

"Kita lihat banyak perempuan-perempuan Indonesia yang bisa berkiprah di ruang-ruang publik. Jadi, ini tentu saja kemajuan yang diinginkan, yang juga diinginkan oleh RA Kartini," ungkap Isyana saat ditemui di Jakarta pada Selasa, 21 April 2026.

Walaupun telah banyak kemajuan yang dicapai oleh perempuan, Isyana juga mengingatkan bahwa mereka masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah tingginya angka kematian ibu.

"Pada saat yang sama kita tahu bahwa tantangan-tantangan juga masih tinggi, kita lihat angka kematian ibu, angka kematian bayi," jelas Isyana setelah acara bersama Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).

Menurut data Kementerian Kesehatan, setiap tahun terdapat sekitar 4.000 ibu yang meninggal dunia akibat komplikasi yang terkait dengan kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Isyana menambahkan bahwa kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintahan Prabowo Subianto, sejalan dengan Asta Cita yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu, Kemendukbangga berfokus pada penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam bidang pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.

Isyana menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan bersama kementerian dan lembaga lain serta organisasi profesi, termasuk POGI. Ia memberikan contoh kolaborasi yang dilakukan dalam pelayanan metode operasi wanita (MOW atau tubektomi), edukasi kesehatan reproduksi, dan peningkatan kapasitas tenaga lapangan serta petugas pelayanan keluarga berencana.

"Kita terus melakukan kolaborasi, baik dalam pelayanan, edukasi, maupun peningkatan kualitas petugas di lapangan. Karena yang paling penting adalah menjaga keluarga sebagai unit terkecil," tuturnya.

Pendidikan untuk remaja mengenai perencanaan pernikahan sangat penting

Isyana menekankan bahwa edukasi sejak usia remaja sangat penting untuk memastikan generasi muda memahami cara merencanakan kehidupan berkeluarga.

"Edukasi sejak remaja itu penting, agar mereka tahu apa yang harus dipersiapkan dan direncanakan, termasuk dalam merencanakan pernikahan dan kehamilan," ungkapnya.

Di samping itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemendukbangga) juga mendorong partisipasi laki-laki dalam pengasuhan anak melalui program Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Isyana berpendapat bahwa kolaborasi antara ayah dan ibu dalam pengasuhan akan menghasilkan pola asuh yang lebih baik untuk anak.

"Tidak hanya perempuan yang memajukan perempuan, laki-laki juga harus ikut berkontribusi. Dengan berbagi peran dalam pengasuhan, anak-anak bisa tumbuh lebih optimal," jelasnya.

Rekomendasi