Geger Grup FB Fantasi Sedarah: Ketimpangan Kekuasaan di Rumah sebagai Penyebab Perilaku Inses Menyimpang

Grup Facebook 'Fantasi Sedarah' yang berisi konten inses dikecam. Pemerintah dan polisi bertindak cepat menutup grup berisi 32 ribu anggota tersebut.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Geger Grup FB Fantasi Sedarah: Ketimpangan Kekuasaan di Rumah sebagai Penyebab Perilaku Inses Menyimpang
Geger Grup FB Fantasi Sedarah: Ketimpangan Kekuasaan di Rumah sebagai Penyebab Perilaku Inses Menyimpang (Merdeka.com)

Bayangkan sebuah rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, namun malah menjadi sarang ketidakadilan dan bahaya. Pada Mei 2025, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh grup Facebook "Fantasi Sedarah," sebuah komunitas daring yang menjadi wadah bagi individu untuk berbagi fantasi seksual yang melibatkan anak kandung mereka sendiri.

Grup "Fantasi Sedarah" menjadi sorotan ketika tangkapan layar percakapan dan unggahan di grup tersebut menyebar di media sosial seperti X dan Instagram. Kontennya mencakup cerita vulgar, foto anak-anak dengan keterangan tidak senonoh, dan diskusi tentang ketertarikan seksual terhadap kerabat dekat. Dengan jumlah anggota mencapai 32.000 sebelum ditutup, grup ini menunjukkan betapa mudahnya platform digital menjadi sarana penyebaran konten berbahaya. Polda Metro Jaya kini tengah menyelidiki kasus ini, dengan fokus pada pelaku dan pengelola grup.

Pihak berwenang, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dan anggota DPR, dengan tegas mengutuk keberadaan grup tersebut. Mereka mendesak penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pengelola dan anggota grup. Konten yang disebarkan tidak hanya melanggar hukum dan norma sosial, tetapi juga berpotensi menormalisasi perilaku inses yang sangat berbahaya. Di balik fenomena ini, ada akar masalah yang lebih dalam: ketimpangan kekuasaan di rumah tangga. 

Apa Itu Ketimpangan Kekuasaan di Rumah?

Ketimpangan kekuasaan di rumah tangga merujuk pada situasi di mana satu anggota keluarga, biasanya ayah atau suami, memegang kendali mutlak atas anggota lainnya, seperti istri dan anak. Dalam konteks budaya Indonesia, yang masih kental dengan nilai patriarki, laki-laki sering dilihat sebagai pemimpin keluarga, sementara perempuan dan anak diharapkan tunduk pada kehendaknya. Kondisi ini dapat menciptakan lingkungan di mana anak dan istri diperlakukan sebagai properti, bukan individu dengan hak-hak sendiri. Ketika kekuasaan ini tidak seimbang, risiko kekerasan—termasuk kekerasan seksual—meningkat secara signifikan.

Winin Maulidya Saffanah, sosiolog dan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dari Universitas Insan Budi Utomo, menjelaskan, "Banyak ayah atau suami yang menganggap bahwa anak dan istri adalah properti milik mereka sehingga akhirnya harus nurut dengan segala. Pada tahap paling ekstremnya, kondisi ini bisa mendorong perilaku berbagi foto anak dan istri yang diambil seperti ini untuk dinikmati sebagai objek seksual sendiri atau orang lain." Ia menambahkan, "Lebih bahayanya lagi, kondisi ini mungkin dinormalisasi oleh anak akibat pemikiran yang sudah diajarkan dari kecil oleh orangtua."

Dilansir dari ANTARA, Khairunissa dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan UNAND menegaskan, "Ketimpangan kekuasaan dalam keluarga, misalnya, membuat kepala keluarga merasa memiliki otoritas penuh atas anggota lainnya, termasuk anak. Interaksi yang terlalu intens dan tidak sehat antara saudara kandung atau anggota keluarga sedarah juga dapat menimbulkan penyimpangan." Ia menambahkan, "Jika rumah tak lagi menjadi tempat aman, maka kita harus memastikan ruang digital tidak menjadi tempat subur bagi kekerasan baru. Melindungi anak dan keluarga adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari keberanian untuk melapor, menyuarakan kebenaran, dan membangun ruang aman, baik di dunia nyata maupun digital."

Sekretaris KemenPPPA Titi Eko Rahayu menyatakan keprihatinannya: "KemenPPPA sangat prihatin dan mengecam keras keberadaan grup Facebook yang menormalisasi tindakan inses yang sangat membahayakan terutama bagi perempuan dan anak. Keberadaan grup semacam ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai moral sekaligus mengancam keselamatan dan masa depan anak-anak Indonesia. Fantasi seksual yang melibatkan inses bukan hanya tidak pantas, akan tetapi juga dapat merusak persepsi publik terhadap hubungan keluarga yang sehat."

Ilustrasi Ancaman Perilaku Inses di Rumah
Ilustrasi Ancaman Perilaku Inses di Rumah Bing Image Creator/Freepik AI Image Generator

Mengapa Ketimpangan Kekuasaan Mendorong Inses?

Ketimpangan kekuasaan dalam keluarga menciptakan lingkungan di mana batasan sehat antar anggota keluarga menjadi kabur. Dalam budaya patriarki, laki-laki sering diberi hak istimewa untuk mengatur keluarga, yang dapat menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan. Misalnya, ketika anak diajarkan untuk selalu menuruti orang tua tanpa pertanyaan, mereka mungkin tidak mampu menolak atau melaporkan pelecehan. Penelitian dari Medical News Today (Covert Incest) menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah secara fisik atau emosional dapat meningkatkan risiko pelecehan seksual antara saudara kandung, karena kekosongan kekuasaan ini sering diisi oleh anggota keluarga lain dengan cara yang tidak sehat.

Selain itu, ketika orang tua—terutama ayah—memandang anak sebagai properti, mereka mungkin merasa berhak atas tubuh dan pikiran anak, yang dapat memicu perilaku seperti pelecehan seksual atau fantasi inses. Platform digital seperti grup "Fantasi Sedarah" memperburuk masalah ini dengan memberikan ruang bagi pelaku untuk menormalkan dan berbagi fantasi mereka, menciptakan komunitas yang mendukung perilaku menyimpang.

Dampak Ketimpangan Kekuasaan

Ketimpangan kekuasaan di rumah tangga tidak hanya menyebabkan pelecehan fisik atau seksual tetapi juga trauma psikologis yang berkepanjangan bagi korban. Anak yang mengalami inses atau terpapar fantasi semacam ini berisiko mengalami depresi, kecemasan, gangguan makan, dan kesulitan membentuk hubungan sehat di masa depan. Menurut laporan Komnas Perempuan, pada 2019, terdapat 1.210 kasus inses dari total 9.409 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan pelaku terbanyak adalah ayah kandung (Komnas Perempuan Annual Report). Angka ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini di Indonesia.

Normalisasi perilaku menyimpang dalam keluarga dapat membuat anak tumbuh dengan pemahaman keliru tentang hubungan keluarga dan seksualitas. Seperti yang diungkapkan Saffanah, anak mungkin menerima perilaku ini sebagai hal biasa karena telah diajarkan sejak kecil, yang dapat memperpanjang siklus kekerasan ke generasi berikutnya. Selain itu, masyarakat juga terdampak, karena nilai-nilai keluarga yang sehat menjadi terancam, sebagaimana ditekankan oleh Titi Eko Rahayu.

Polisi Bertindak Cepat, Grup Facebook 'Fantasi Sedarah' Ditutup

Menanggapi keresahan masyarakat, polisi bergerak cepat untuk menindaklanjuti laporan mengenai grup Facebook 'Fantasi Sedarah'. Dirsiber Polda Metro Jaya, Kombes Pol Roberto Pasaribu, menyatakan bahwa grup tersebut telah ditutup oleh pihak Facebook (Meta) karena melanggar aturan platform.

"Akun grup tersebut sudah ditutup/ditangguhkan/dihapus oleh provider FB Meta karena melanggar aturan," ujar Kombes Pol Roberto Pasaribu kepada wartawan pada Jumat (16/5). Penyelidikan terhadap kasus ini masih terus berlangsung.

Grup tersebut diketahui memiliki sekitar 32 ribu anggota yang saling berbagi pengalaman terkait hubungan seksual dengan anggota keluarga sedarah. Jumlah anggota yang fantastis ini menunjukkan betapa seriusnya penyimpangan yang terjadi dan perlunya tindakan tegas untuk mencegah penyebaran ideologi yang berbahaya.

Ilustrasi Ancaman Perilaku Inses di Rumah
Ilustrasi Ancaman Perilaku Inses di Rumah Bing Image Creator/Freepik AI Image Generator

Emotional Incest: Bentuk Lain Penyalahgunaan Kekuasaan

Ketimpangan kekuasaan juga dapat memicu "emotional incest," di mana orang tua mengandalkan anak untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka, seperti teman dekat atau pasangan romantis. Menurut Healthline (Emotional Incest), emotional incest dapat menyebabkan masalah psikologis jangka panjang, termasuk depresi, kecemasan, dan gangguan hubungan. Orang tua yang melakukan emotional incest sering kali tidak memiliki sistem dukungan emosional yang sehat, sehingga bergantung pada anak untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam konteks grup "Fantasi Sedarah," beberapa pelaku mungkin mengalami emotional incest di masa kecil, yang kemudian berkembang menjadi fantasi seksual menyimpang. Misalnya, seorang anak yang dipaksa menjadi "pasangan emosional" bagi orang tua mungkin mengembangkan pemahaman yang salah tentang batasan keluarga, yang dapat memengaruhi perilaku mereka di masa dewasa.

Dampak Kesehatan di Balik Praktik Inses yang Mengerikan

Praktik inses, atau hubungan seksual antara individu yang memiliki hubungan darah dekat, memiliki dampak kesehatan yang sangat serius. Inses dilarang di berbagai belahan dunia karena berpotensi menyebabkan masalah genetik pada keturunan, seperti meningkatnya risiko penyakit bawaan dan kelainan fisik.

Selain dampak fisik, inses juga dapat menyebabkan trauma psikologis yang mendalam bagi para korban. Korban inses seringkali mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan kesulitan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya inses dan memberikan dukungan kepada para korban. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal menjadi korban inses, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Kasus grup Facebook 'Fantasi Sedarah' ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan platform media sosial untuk lebih bertanggung jawab dalam mengawasi dan mengatur konten yang beredar di dunia maya. Algoritma Facebook yang seharusnya membantu pengguna menemukan konten yang relevan, justru dalam kasus ini memfasilitasi penyebaran konten yang berbahaya dan melanggar hukum.

Pemerintah perlu mendorong penyelenggara sistem elektronik (PSE) untuk lebih proaktif dalam mencegah penyebaran konten-konten yang melanggar aturan dan membahayakan masyarakat. Facebook juga diharapkan untuk memperbaiki sistem distribusi kontennya agar tidak merekomendasikan grup-grup yang berisi konten inses kepada pengguna.

Selain itu, edukasi publik mengenai bahaya inses dan eksploitasi seksual anak juga perlu ditingkatkan. Masyarakat perlu lebih waspada terhadap tanda-tanda kekerasan seksual pada anak, seperti perubahan perilaku yang drastis, gangguan tidur, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Kasus grup "Fantasi Sedarah" mencerminkan masalah mendalam dalam masyarakat: ketimpangan kekuasaan di rumah tangga yang dapat memicu perilaku inses menyimpang. Budaya patriarki, yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama, memperburuk situasi dengan menormalkan pandangan bahwa anak dan istri adalah properti. Dengan edukasi, penegakan hukum, dan dukungan psikologis, kita dapat memutus siklus kekerasan ini dan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan keluarga. 

Rekomendasi