Penggunaan antibiotik yang tak tepat bisa membuat seseorang berisiko mengalami resistensi antibiotik. Jika kondisi ini sudah terjadi, bakteri penyebab bakteri dalam tubuh seseorang bisa bertahan dari sejumlah pengobatan yang sudah dilakukan.
"Prinsipnya, makin sering makan antibiotik makin banyak bakteri yang resisten, sederhana seperti itu," kata dokter spesialis anak Purnamawati Sujud.
Dokter yang juga pendiri dan Dewan Penasehat Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) ini mengatakan, ketika semakin banyak bakteri jahat yang resisten terhadap pengobatan antibiotik, seseorang akan lebih mudah untuk sakit.
Wati mencontohkan ketika seseorang terkena bakteri E.coli yang resisten, akan lebih kebal ketika seseorang mengonsumsi antibiotik. Bahkan, penyakit lebih berisiko menyerang organ-organ tertentu.
"Jadi ketika bakteri resisten menyerang, di satu sisi penyakitnya lebih berat dan lebih sulit sembuh," kata Wati.
Advertisement
Ketika Bakteri Sudah Kebal, Butuh Antibiotik yang Lebih Kuat
Salah satu penyebab lebih sulitnya penyakit akibat bakteri yang lebih lama adalah karena tenaga kesehatan harus mencari antibiotik yang lebih kuat.
"Jadi dunia kedokteran itu seperti sedang berlari di atas treadmill, tapi yang dikejar itu tidak pernah tertangkap. Jadi mencari antibiotik baru bukan solusi, meskipun menemukan itu juga penting," kata Wati.
Selain itu, antibiotik yang lebih kuat juga memiliki risiko efek samping yang lebih besar.
"Artinya dari sisi medis risiko kematiannya tinggi, dari sisi non-medis uangnya juga lebih besar," ujarnya.
YOP memaparkan bahwa ketika seseorang terinfeksi bakteri yang resisten atau superbugs, menjadi lebih sulit untuk disembuhkan dan terapinya membutuhkan biaya yang sangat mahal. Beberapa kasus bahkan menyebabkan cacat permanen.
Reporter: Giovani Dio Prasasti
Sumber: Liputan6.com