Mengapa di Indonesia Tidak Ada Bidan Laki-laki? Ketahui Negara Mana Saja yang Membolehkan Bidan Laki-laki

Indonesia tak memiliki bidan laki-laki karena regulasi yang membatasi profesi ini hanya untuk perempuan. Ketahui perbandingannya dengan sejumlah negara lain.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Mengapa di Indonesia Tidak Ada Bidan Laki-laki? Ketahui Negara Mana Saja yang Membolehkan Bidan Laki-laki
Mengapa di Indonesia Tidak Ada Bidan Laki-laki? Ketahui Negara Mana Saja yang Membolehkan Bidan Laki-laki (Merdeka.com)

Ketika kita membahas mengenai profesi bidan, hal pertama yang terlintas adalah profesi khusus bagi perempuan. Namun, pernahkah Anda bertanya: mengapa di Indonesia kita tidak pernah mendengar tentang bidan laki-laki? Apa yang membuat profesi ini begitu identik dengan wanita? Dan di negara mana saja pria bisa menjadi bidan dan berperan dalam membantu kelahiran?

Di Indonesia, kebidanan memiliki akar yang dalam dalam tradisi lokal. Bidan tradisional, atau sering disebut "dukun bayi," adalah wanita yang mewarisi pengetahuan dan keterampilan dari generasi sebelumnya. Peran ini dianggap sakral, erat kaitannya dengan pengalaman wanita dalam melahirkan. Menurut sebuah artikel di PubMed, dukun bayi memainkan peran penting di daerah pedesaan Indonesia, di mana 80% penduduk tinggal. Tradisi ini memperkuat pandangan bahwa kebidanan adalah ranah wanita, karena mereka dianggap lebih memahami kebutuhan dan penderitaan sesama wanita selama persalinan.

Norma budaya juga memengaruhi. Dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, privasi wanita sangat dijunjung tinggi. Meskipun tidak ada larangan agama yang eksplisit terhadap pria dalam perawatan kesehatan wanita, banyak yang merasa bahwa pemeriksaan intim oleh pria selain suami atau keluarga dekat kurang sesuai. Studi serupa di Filipina, seperti yang diterbitkan di ASEAN Journal of Community Engagement, menunjukkan bahwa wanita merasa malu atau tidak nyaman dengan bidan laki-laki, sebuah sentimen yang mungkin juga berlaku di Indonesia.

Preferensi Pasien

Preferensi pasien adalah faktor kunci lainnya. Banyak wanita hamil di Indonesia lebih nyaman dilayani oleh bidan wanita, terutama untuk pemeriksaan fisik yang bersifat intim. Rasa nyaman ini tidak hanya soal fisik tetapi juga emosional. Wanita sering merasa lebih terhubung dengan bidan wanita, yang dianggap lebih empati terhadap pengalaman kehamilan dan persalinan. Meskipun tidak ada data spesifik tentang penolakan terhadap bidan laki-laki di Indonesia, preferensi ini mencerminkan norma sosial yang sudah mapan.

Sebagai contoh, dalam penelitian di Filipina, responden menyatakan bahwa mereka lebih memilih bidan wanita karena faktor kenyamanan dan kepercayaan. Di Indonesia, di mana budaya serupa menekankan kesopanan dan privasi, kemungkinan besar preferensi ini juga kuat. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa sebagian besar persalinan di daerah pedesaan masih dilakukan di rumah, di mana kehadiran bidan wanita terasa lebih alami dan diterima.

Hindari Kesalahan Ini Saat Akan Melahirkan Terutama untuk Anak Pertama
Ilustrasi Melahirkan Normal © 2023 merdeka.com

Regulasi dan Pendidikan

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2017 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan secara gamblang mendefinisikan bidan sebagai "seorang perempuan yang lulus pendidikan bidan dan telah terdaftar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan." Definisi yang tegas ini menjadi landasan hukum yang kuat mengapa di Indonesia kita belum melihat seorang bidan pria menjalankan praktiknya. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 369/Menkes/SK/III/2007 pun sejalan dengan hal tersebut, memperkuat batasan gender dalam profesi ini. Meskipun kompetensi dan keahlian seharusnya menjadi faktor utama, regulasi saat ini mengesampingkan potensi kontribusi bidan laki-laki di Indonesia.

Pendidikan kebidanan di Indonesia, seperti program D3 Kebidanan yang dimulai sejak 1998, tampaknya dirancang dengan fokus pada wanita. Kurikulum dan praktik klinis lebih disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan pasien wanita, yang mungkin membuat pria merasa kurang termotivasi atau didukung untuk bergabung.

Peran Vital Bidan di Indonesia

Bidan adalah pilar utama dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Menurut Project HOPE, lebih dari 60.000 bidan bekerja di seluruh Indonesia, dengan setengahnya memiliki praktik swasta. Mereka menyediakan perawatan prenatal, membantu persalinan, memberikan perawatan pascamelahirkan, dan mendidik masyarakat tentang kesehatan reproduksi. Di daerah seperti Bali, 90% persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi di Sulawesi Tenggara, hanya 8,4% wanita yang melahirkan di fasilitas kesehatan, menunjukkan ketergantungan besar pada bidan desa.

Namun, tantangan tetap ada. Banyak bidan menghadapi kekurangan sumber daya, pelatihan yang tidak memadai, dan kesulitan menjangkau daerah terpencil. Meskipun demikian, profesi ini sangat dihormati karena perannya dalam mengurangi angka kematian ibu dan bayi, meskipun Indonesia belum mencapai target pengurangan tiga perempat angka kematian ibu selama periode Tujuan Pembangunan Milenium (2000–2015), seperti yang dilaporkan oleh PMC.

Ilustrasi Melahirkan Normal
Ilustrasi Melahirkan Normal © 2023 merdeka.com

Negara-negara yang Membolehkan Bidan Laki-laki

Sementara Indonesia tampaknya tidak memiliki bidan laki-laki, banyak negara lain telah membuka pintu bagi pria dalam profesi ini. Berikut adalah beberapa contoh berdasarkan data dari Wikipedia dan studi global di ResearchGate:

Belanda

Di Belanda, kebidanan adalah profesi yang sangat dihormati, dengan pendekatan yang menekankan persalinan alami. Bidan laki-laki, atau "vroedmeester," menjalani pelatihan yang sama dengan bidan wanita dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Sistem kesehatan Belanda memungkinkan bidan untuk bekerja secara mandiri, baik di rumah maupun di fasilitas kesehatan.

Inggris

Di Inggris, bidan laki-laki mulai diterima setelah Undang-Undang Diskriminasi Gender 1975, tetapi Royal College of Midwives baru mengizinkan pria bergabung pada 1983. Saat ini, hanya sekitar 0,6% bidan yang laki-laki, tetapi keberadaan mereka menunjukkan langkah menuju inklusivitas.

Amerika Serikat

Di AS, bidan laki-laki adalah bagian dari profesi nurse-midwifery. Mereka menjalani pelatihan ketat dan menyediakan perawatan yang sama dengan bidan wanita. Meskipun hanya 1% dari total anggota American College of Nurse-Midwives, mereka diakui sebagai profesional yang kompeten.

Spanyol dan Chili

Kedua negara ini memiliki persentase bidan laki-laki yang lebih tinggi, sekitar 10%. Hal ini mungkin mencerminkan norma budaya yang lebih terbuka terhadap kesetaraan gender dalam profesi kesehatan.

Etiopia dan Burundi

Di Etiopia dan Burundi, bidan laki-laki sangat umum, dengan persentase masing-masing 33% dan 50%. Ini mungkin karena kebutuhan tenaga kesehatan yang mendesak di daerah pedesaan, di mana pria sering mengisi kekosongan tenaga kerja.

Studi global yang mencakup 77 negara menunjukkan bahwa dari 19 negara tanpa bidan laki-laki, lima di antaranya secara eksplisit melarang pria menjadi bidan, meskipun Indonesia tidak disebutkan dalam daftar ini. Negara-negara seperti Afghanistan, Brunei, dan Arab Saudi memiliki pembatasan berdasarkan aturan Islam yang membatasi pria melihat tubuh wanita kecuali dalam keadaan darurat.

Rekomendasi