Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia Dianggap Masih Terbelakang dan Disepelekan

Kamis, 2 Mei 2019 16:11 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia Dianggap Masih Terbelakang dan Disepelekan Ilustrasi depresi. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Oleg Golovnev

Merdeka.com - Masalah kesehatan jiwa merupakan sebuah hal yang masih kerap disepelekan dan dipandang sebelah mata di Indonesia. Padahal sesungguhnya kesehatan jiwa di Indonesia mendapat porsi dan perhatian yang tak kalah besar dibanding masalah kesehatan lainnya.

"Ini bukan lagi hanya dinomorduakan. Menurut saya ini (kesehatan jiwa) sudah paling belakang," kata psikoterapis Yusa Azis pada Health Liputan6.com.

Yusa mengatakan, orang Indonesia cenderung lebih terfokus kepada hal-hal yang bersifat material. Mulai dari mencukupi kehidupan sehari-hari sampai yang bersifat intelektualitas.

"Akibatnya jiwa menjadi terbelakang," tambah pendiri Sanggar Jiwa Bertumbuh ini saat ditemui usai konferensi pers Happiness Festival 2019 di Sudirman, Jakarta.

Masalah ini tidak lepas dari kurangnya edukasi dan kesadaran akan jiwa di masyarakat Indonesia. Yusa mengatakan, dalam tubuh manusia, ada jiwa, intelektualitas, dan tubuh.

Sejarah bangsa Indonesia yang dijajah oleh bangsa lain dalam waktu yang lama dan hidup dalam kemiskinan, membuat masyarakat dianggap lebih fokus untuk mencari materi.

"Padahal tanpa sadar, jiwa itu sendiri yang menggerakkan kita untuk bisa survive, untuk mencari bahkan menciptakan materi."

Yusa membandingkan ilmu dan kesadaran masyarakat Indonesia akan kesehatan jiwa dengan negara-negara Barat. Di sana, sejak abad 17 telah muncul para pakar psikologi dan kesehatan jiwa. Sebut saja, Sigmund Freud, Carl Jung, dan Abraham Maslow.

"Kita masih keterbelakangan soal kesehatan jiwa. Kita menganggap kalau sudah pintar, dapat gelar, posisi bagus, gaji oke, bisa bisnis, bisa usaha, itu cukup. Kenyataannya tidak," kata Yusa.

Maka dari itu, Indonesia masih butuh lebih banyak sosialisasi dan edukasi soal pentingnya kesehatan jiwa. Apalagi, ketika kita bicara soal spiritualitas.

Yusa mengatakan bahwa spiritualitas tidak bisa hanya dijadikan pelarian. Tidak ada ketenangan yang bisa dicapai dengan mencari solusi di luar diri.

"Solusi dan jawaban kebenaran sebenarnya terletak di dalam jiwa manusia itu sendiri," tandas Yusa.

Reporter: Giovani Dio Prasasti
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini