Konsumsi Teh dan Kopi Berlebih Bisa Buat Kafein Masuk ke Dalam Aliran Darah

Jumat, 6 Desember 2019 14:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Konsumsi Teh dan Kopi Berlebih Bisa Buat Kafein Masuk ke Dalam Aliran Darah Ilustrasi teh dan kopi. ©Shutterstock.com/ Anson0618

Merdeka.com - Kafein merupakan salah satu minuman yang biasa dikonsumsi oleh banyak orang. Sebagian orang mengonsumsi minuman ini untuk membantu mereka terjaga ketika bekerja.

Kebiasaan mengonsumsi minuman ini ternyata juga bisa menyebabkannya masuk ke dalam aliran darah. Hal ini diketahui berdasar penelitian terbaru yang dilakukan.

Konsumsi kafein setiap hari memang bisa membantu seseorang untuk tetap terjaga. Namun pada beberapa kasus, konsumsi berlebihan minuman ini bisa berujung pada overdosis kafein.

Overdosis kafein yang terjadi ini tidak hanya sebatas membuat orang menjadi sulit tidur. Hal ini bisa berujung kebingungan, halusinasi, muntah, dan bahkan kematian.

Hal ini biasa terjadi ketika seseorang mengonsumsi minuman berenergi atau pil diet dalam jumlah besar. Namun penelitian terbaru mengungkap bahwa mengonsumsi kopi atau teh secara rutin bisa membuatnya masuk ke dalam aliran darah.

Hasil temuan ini telah dipublikasikan pada Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis. Diketahui bahwa kafein bisa berada dan bertahan di dalam aliran darah seseorang.

1 dari 1 halaman

Tidak Ada Masalah Kesehatan Serius yang Muncul

Selama tes, seluruh sampel darah menunjukkan adanya kafein di dalamnya. Namun, untungnya tidak adalah masalah kesehatan serius yang dapat muncul dari keberadaan kafein dalam aliran darah.

"Dari sudut pandang kontaminasi, kafein bukan merupakan hal yang dicemaskan pasien. Walau hal ini dapat diperdebatkan pada masyarakat," terang Luying Chen dari OSU.

Peneliti juga diketahui menemukan jejak obat pada sampel darah. Mereka diketahu positif dengan pengobatan anti kecemasan, obat batuk, serta obat diabetes tipe 2.

Peneliti berharap hasul penelitian ini bisa menjadi petunjuk bagi bank darah. Penting bagi mereka untuk mempelajari darah dari pendonor.

"Tanpa melakukan survei komprehensif dari vendor dan bank darah, kita hanya dapat berspekulasi bagaimana menyebarnya masalah ini," terang Richard van Breemen, direktur dari Linus Pauling Institute, OSU.

Penelitian merupakan bagian dari proyek OSU untuk memahami interaksi antara suplemen diet botanikal dengan pengobatan. [RWP]

Baca juga:
Begini Cara Aman Bagi Lansia untuk Mengganti Katup Jantung
Aktivitas Fisik Bisa Membantu Turunkan Risiko Patah Tulang Panggul pada Wanita Lansia
Deretan Penyakit yang Menjadi Penyebab Pesohor Indonesia Tutup Usia di Tahun 2019

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini