Dapatkah Pneumonia yang Disebabkan oleh COVID-19 Sembuh?

Rabu, 27 Januari 2021 08:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Dapatkah Pneumonia yang Disebabkan oleh COVID-19 Sembuh? Pneumonia. Centers for Disease Control and Prevention ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Salah satu gejala yang dialami sejumlah pasien COVID-19 adalah pneumonia. Ketika seseorang yang mengalami COVID-19 mengalami pneumonia, dia perlu untuk mendapatkan perawatan.

Dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto mengatakan bahwa apabila pasien terinfeksi virus corona masuk dalam kategori derajat keparahan sedang, berat, atau kritis, maka itu berarti dia sudah memiliki pneumonia.

"Kalau dilihat statistik, hampir 81 persen COVID-19 itu derajat tanpa gejala dan ringan, sekitar 14 persen itu sedang berat atau di situ sudah terjadi pneumonia, dan sekitar 5 persen derajat kritis," kata Agus.

Dalam dialog dari Graha BNPB beberapa waktu lalu, Agus mengatakan bahwa 19 persen kasus pneumonia dilaporkan dari pasien COVID-19. Ia menjelaskan berdasarkan statistik, sekitar 3 persennya dari mereka memiliki risiko meninggal dunia.

"Jadi, dari angka tersebut sudah jelas sekitar 16 sampai 17 persen pneumonia yang terjadi dapat sembuh seperti awal kembali. Hanya saja kesembuhan itu nanti apakah dia sembuh sempurna atau tidak," kata Agus.

2 dari 2 halaman

Ada Risiko Fibrosis

Agus melanjutkan, apabila virus Corona menyebabkan kerusakan pada paru sehingga berakibat pada pneumonia, kondisi itu berpotensi mengakibatkan sisa atau fibrosis pasca COVID-19.

"Jadi jaringan parunya yang meradang, virusnya sudah hilang negatif hasil PCR-nya, tapi hasil paru ketika di-scanning atau foto rontgen sudah terjadi kerusakan fibrosis," kata Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RS Persahabatan ini menambahkan.

Fibrosis inilah yang dapat menimbulkan gejala sisa dan dapat membuat pasien mengalami Long Covid. Agus mengatakan, terkait apakah paru bisa kembali menjadi sempurna atau tidak, masih dibutuhkan penelitian untuk menguak soal hal ini.

"Ada datanya sekitar 20 persen kasus itu bersifat irreversible yaitu pneumonia yang menyebabkan fibrosis di paru, akhirnya fibrosisnya ada sekitar 20 persen yang tidak bisa kembali," kata Agus.

"Ada yang bisa disembuhkan, ada yang tidak. Ada yang bahkan tidak bisa ditolong menyebabkan terjadinya kegagalan pernapasan bahkan meninggal," tandasnya.

Reporter: Giovani Dio Prasasti
Sumber: Liputan6.com [RWP]

Baca juga:
Ketahui Vitamin yang Dibutuhkan oleh Pasien COVID-19 Bergejala Ringan
Masa Pandemi COVID-19, Pemberian ASI Eksklusif Malah Meningkat
Protokol Kesehatan Dinilai Lebih Sulit Diterapkan dalam Keluarga
Menurut Psikiater, Ini Cara untuk Mencegah Terjadinya Pandemic Fatigue
Ketahui 13 Jenis Vaksin Virus dan Durasi Penemuannya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini