Kisah di Balik Megahnya Masjid Agung Banten yang Berusia Hampir 5 Abad, Dikerjakan Arsitek dari Tiga Negara

Di balik keindahan bangunan berusia hampir lima abad itu, siapa sangka jika perancangnya berasal dari tiga negara.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah di Balik Megahnya Masjid Agung Banten yang Berusia Hampir 5 Abad, Dikerjakan Arsitek dari Tiga Negara
Kisah di Balik Megahnya Masjid Agung Banten yang Berusia Hampir 5 Abad, Dikerjakan Arsitek dari Tiga Negara (Merdeka.com)

Berkuasanya Kesultanan Banten membuat agama Islam kian dikenal luas oleh masyarakat di paling barat pulau Jawa. Di waktu yang bersamaan, pemerintahan sultan turut membangun fasilitas keagamaan yang terpusat yakni Masjid Agung Banten.

Masjid megah ini belakangan dikenal lewat menara putih ikoniknya yang berdiri persis di samping bangunan.

Secara bentuk, rumah ibadah umat Muslim tersebut juga menampilkan struktur khas kerajaan kuno dengan memadukan seni khas Asia hingga Eropa di dalam desain arsitekturnya.

Di balik keindahan bangunan berusia hampir lima abad itu, siapa sangka jika perancangnya berasal dari tiga negara. Mereka kompak mendesain dan mengerjakan Masjid Agung Banten sehingga mampu bertahan hingga sekarang.

Keindahan masjid telah banyak dinikmati oleh para wisatawan, dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai tujuan utama wisata religi di Banten

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Berikut kisah Masjid Agung Banten yang melegenda.

Foto: Youtube Pemprov Banten.

Berusia Hampir Lima Abad

Berusia Hampir Lima Abad
Dok. Istimewa

Sangat jarang ada sebuah bangunan yang mampu bertahan hingga berabad-abad lamanya.

Namun hal berbeda justru ditemui pada Masjid Agung Banten yang telah bertahan sejak tahun 1500-an silam.

Dalam laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, disebutkan bahwa masjid besar ini mulai dibangun atas perintah Sultan Maulana Hasanuddin, Putra dari Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552 – 1570 M.

Ketika itu dirinya menjadi sultan pertama yang berkuasa, setelah Banten direbut dari Kerajaan Pajajaran oleh Cirebon dan Demak.

Agar misi penyebaran agama Islam bisa berjalan maksimal, maka Sultan Hasanuddin mendirikan sebuah masjid yang ternyata bukan sekedar sebagai tempat salat dan berdakwah, namun juga simbol kerukunan dan keberagaman di Banten.

Jika dihitung sejak berdiri sampai tahun 2024, usia pasti Masjid Agung Banten adalah 454 tahun.

Dirancang oleh Arsitek dari Tiga Negara

Dirancang oleh Arsitek dari Tiga Negara
Dok. Istimewa

Masjid Agung Banten dahulu dirancang oleh tiga orang arsitek dari tiga negara yang berbeda.

Bagian atap yang bertumpuk lima menyerupai Pagoda dirancang oleh ahli bangunan asal Tiongkok bernama Tjek Ban Tjut.

Kemudian, bagian utama bangunan yang terdiri dari ruang utama dan dua serambi serta sebuah paviliun (Tiyamah) dibuat oleh ahli hitung bangunan dari Belanda, Henrik Lucasz Cardeel.

Masuknya pengaruh Henrik, membuat masjid seolah sebuah kastil dengan banyak pilar dan tembok yang menjulang dan bercat putih.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Terakhir, sosok arsitek yang cukup kentara menambahkan ikon budaya Jawa di Masjid Agung Banten adalah Raden Sepat. Ia merupakan ahli bangunan yang dipanggil dari Majapahit yang membuat saka guru dan mimbar berbahan kayu bergaya kuno.

Awal Didirikan Kental Nuansa Hindu-Buddha

Saat awal didirikan, Masjid Agung Banten disebut masih sangat kental dengan nuansa Hindu-Buddha. Ini sebagai upaya akulturasi kepada masyarakat Banten yang masih di bawah pengaruh kerajaan Pajajaran.

Ornamen Hindu-Buddha sangat terlihat dari adanya padma pada puncak menara.

Padma merupakan simbolisasi bunga teratai yang identik sebagai lambang dari agama Buddha. Kemudian, pintu masuk menara juga dianalogikan sebagai pintu masuk menuju candi Hindu-Buddha.

Setelah masuknya Belanda, ornamen tersebut kemudian diubah menjadi lebih art-deco, sebagai bentuk dominasi Belanda saat pertama masuk ke tanah Banten.

Terdapat Makam Sultan-sultan Banten

Merujuk duniamasjid.islamic-center.or.id, di masjid tersebut juga terdapat makam dari para sultan Banten yang pernah berkuasa.

Makam-makam tersebut di antaranya milik Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. 

Kemudian di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin serta yang lainnya.

Masjid ini juga terus dirawat dan direnovasi di masa-masa kepemimpinan sultan selanjutnya sampai era keruntuhan Kesultanan Banten di tahun 1813.

Jadi Destinasi Religi Terkenal

Jadi Destinasi Religi Terkenal
Dok. Istimewa

Di masa sekarang, Masjid Agung Banten menjadi destinasi religi utama yang ada di provinsi tersebut.

Tercatat ratusan orang berdatangan saat hari libur untuk menyaksikan keindahan dan kemegahan arsitekturnya.

Selain itu, mereka juga ingin membuktikan kejayaan Kesultanan Banten yang berjasa mengusir Belanda di tanah jawara itu.

Mengutip kanal Youtube Pemprov Banten, destinasi ini semakin disukai karena memiliki fasilitas yang lengkap, termasuk adanya sisa reruntuhan Keraton Surosowan yang menjadi pusat pemerintahan raja-raja Banten lawas.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Saat itu, Masjid Agung Banten jadi salah satu titik wisata, setelah Surosowan, Danau Tasikardi, Situs Pangindelan dan Keraton Kaibon.  

Gambar: Masjid Agung Banten yang berada di samping reruntuhan Keraton Surosowan.

Rekomendasi