10 Temuan Mengejutkan Sistem Kesehatan Masyarakat di Masa Lalu: Dari Romawi Hingga Siberia

Ketahui praktik kesehatan masyarakat kuno yang canggih dan mengejutkan, dari sanitasi Romawi hingga operasi tengkorak di Siberia.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
10 Temuan Mengejutkan Sistem Kesehatan Masyarakat di Masa Lalu: Dari Romawi Hingga Siberia
10 Temuan Mengejutkan Sistem Kesehatan Masyarakat di Masa Lalu: Dari Romawi Hingga Siberia (Merdeka.com)

 Sepanjang sejarah, sistem kesehatan masyarakat telah berkembang secara bertahap, dari praktik sederhana hingga metode yang lebih canggih. Namun, beberapa temuan arkeologi baru-baru ini telah mengungkapkan fakta-fakta mengejutkan tentang praktik kesehatan masyarakat di masa lalu, yang menantang pemahaman kita tentang sejarah kedokteran dan perawatan kesehatan.

 Kita sering membayangkan bahwa peradaban kuno tertinggal jauh dalam hal ilmu pengetahuan dan kesehatan. Namun, berbagai penemuan arkeologis telah menggugurkan asumsi tersebut. Di balik catatan sejarah dan tulang-belulang, tersimpan kisah mengejutkan tentang bagaimana masyarakat kuno menghadapi penyakit, merawat sesamanya, dan bahkan menjalankan sistem kesehatan yang terorganisasi. 

Di tengah gurun dan makam para firaun, terdapat sebuah desa kecil bernama Deir el-Medina. Di sinilah, sekitar tahun 1292–1077 SM, para pengrajin membangun makam-makam kerajaan. Namun, hal yang paling mencolok bukanlah arsitekturnya, melainkan sistem kesehatannya. Para pekerja berhak atas hari sakit berbayar dan pemeriksaan gratis, semacam klinik zaman kuno.

Menurut antropolog Anne Austin, tulang-belulang menunjukkan bahwa bahkan penderita disabilitas serius tetap menerima perawatan dan peran sosial. “Seorang pria muda dengan kelumpuhan kaki kanan tampaknya diberi pekerjaan yang tidak mengharuskan mendaki ke lokasi makam,” ungkapnya. Tak hanya itu, dalam wasiatnya, seorang perempuan bernama Naunakhte memarahi dan mencoret empat dari delapan anaknya karena mengabaikannya saat tua.

Teknik trepanation, membuat lubang di tengkorak, dikenal luas dalam sejarah medis kuno. Namun, di Peru, teknik ini dilakukan pada tulang kaki. Di benteng Kuelap, para arkeolog menemukan dua tulang kering dengan lubang simetris yang tampaknya dibuat untuk mengeluarkan cairan akibat infeksi.

Walau dua pasien muda ini meninggal, temuan ini merupakan bukti pertama trepanation pada bagian tubuh lain selain kepala. Ada kemungkinan juga bahwa prosedur dilakukan pasca-kematian untuk latihan atau pembuatan jimat.

Dokumen medis dari Mesopotamia kuno menunjukkan bahwa tentara dari Dinasti Assyria sekitar 1300 SM mengalami gejala yang identik dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Mereka mengeluhkan mimpi buruk, mendengar suara hantu, dan depresi berat.

Peneliti Jamie Hacker Hughes menyebut, “Para prajurit menggambarkan melihat dan mendengar hantu orang-orang yang mereka bunuh dalam pertempuran—pengalaman yang mirip dengan tentara modern.” Penyembuh saat itu mengaitkan gejala ini dengan hukuman dari dewa dan menggunakan ritual serta ramuan untuk "mengusir roh jahat".

Di sebuah kapal karam dekat Tuscany, Italia, ditemukan kotak obat milik seorang tabib Romawi. Salah satu isinya adalah tablet hijau kecil yang utuh selama dua milenium. Analisis kimia menunjukkan bahwa pil ini terbuat dari beeswax, resin pinus, senyawa seng, dan bahan tumbuhan.

Berdasarkan bentuk dan komposisinya, para peneliti percaya bahwa pil ini digunakan sebagai obat mata. Sebuah temuan langka yang menunjukkan bahwa farmasi kuno bisa sangat spesifik dan kompleks. Seperti disimpulkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, “Penemuan ini memberikan wawasan luar biasa tentang komposisi dan potensi terapi obat-obatan kuno.”

Ironisnya, keluarga Medici—keluarga kaya dan berpengaruh di Italia—menjadi korban penyakit rickets, kelainan tulang akibat kekurangan vitamin D. Anak-anak mereka, seperti Filippo yang berusia lima tahun, mengalami deformitas tulang karena kurangnya paparan sinar matahari.

Bertolak belakang dengan anak-anak miskin yang bermain di luar, anak bangsawan dijaga agar tetap pucat—simbol status sosial tinggi. Mereka menghabiskan waktu di dalam rumah besar, mengenakan pakaian berlapis-lapis, dan diberi makanan minim vitamin D. Sebuah ironi sejarah bahwa kekayaan bisa membawa kekurangan.

Kini susu keledai dipromosikan sebagai alternatif bagi anak-anak dengan alergi susu sapi. Namun jauh sebelum itu, Hippocrates sudah merekomendasikannya untuk mengobati mimisan hingga gigitan ular. Cleopatra bahkan disebut mandi dalam susu keledai demi kecantikan kulitnya.

Masalahnya, produksi susu keledai sangat terbatas—hanya sekitar satu liter per hari. Namun manfaat medis dan kosmetiknya sudah diakui sejak ribuan tahun lalu. Kini, kita hanya mengulang kembali apa yang sudah diketahui oleh leluhur kita.

Pada tahun 2012, pekerja konstruksi di Chengdu, China, menemukan 920 bilah bambu yang memuat catatan medis dari zaman Dinasti Han (sekitar 2000 tahun lalu). Teks tersebut berasal dari sekolah Bian Que, dokter legendaris yang dikenal karena teknik diagnosis lewat nadi dan pemeriksaan fisik.

Isinya mencakup ilmu penyakit dalam, dermatologi, ginekologi, dan bahkan kedokteran hewan. Salah satu metode pengobatan yang tercatat adalah pemberian urin sapi untuk penyakit kuning dan cabai untuk sakit kepala. Figur kecil dengan titik akupunktur juga ditemukan, memberikan petunjuk awal tentang asal-usul akupunktur.

Pada abad ke-20, ditemukan artefak berupa pot tanah liat dengan batang besi dan silinder tembaga di Irak. Awalnya diduga sebagai alat untuk pelapisan logam. Namun, Paul T. Keyser dari University of Alberta mengajukan teori medis: benda ini mungkin digunakan untuk mengalirkan listrik sebagai terapi rasa sakit, mirip dengan teknik elektro-akupunktur.

Dalam jurnal Journal of Near Eastern Studies, Keyser menyebut, “Jika orang Yunani kuno bisa menggunakan belut listrik untuk mengobati nyeri, mengapa tidak masyarakat Mesopotamia menggunakan listrik buatan?” Spekulasi ini menambah dimensi baru dalam pemahaman kita terhadap pengobatan kuno.

Meski dikenal sebagai bajak laut kejam, Blackbeard ternyata menaruh perhatian besar pada kesehatan awaknya. Ketika mengambil alih kapal Queen Anne’s Revenge pada 1717, ia menahan tiga ahli bedah dari kapal Prancis untuk tetap tinggal dan merawat anak buahnya.

Dari bangkai kapal yang ditemukan di lepas pantai Carolina Utara, arkeolog menemukan alat suntik uretra untuk mengobati sifilis, alat enema, pisau bedah, dan pot obat. Meski metode seperti penggunaan merkuri bisa mematikan, niat Blackbeard untuk menyediakan layanan medis di kapal sangatlah jelas.

Di Pegunungan Altai, Siberia, para peneliti menemukan tiga tengkorak dari 2.300 tahun lalu yang menunjukkan bekas operasi otak. Satu pasien, pria dengan trauma kepala, menjalani trepanation dan berhasil sembuh total. Tulangnya menunjukkan pertumbuhan setelah operasi.

Ahli bedah menggunakan alat sederhana seperti pisau perunggu untuk melakukan prosedur kompleks ini, sesuai prinsip Hippocratic Corpus. Dr. Aleksei Krivoshapkin, ahli bedah saraf dari Novosibirsk, berkata, “Saya benar-benar kagum. Mereka bisa melakukan diagnosis yang presisi dan operasi otak yang fantastis.”

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat kuno memiliki pemahaman mendalam tentang tubuh manusia dan penyakit. Mereka merawat luka, menyusun sistem kesehatan, bahkan melakukan operasi otak dengan hasil yang mengejutkan. Kecanggihan masa kini tak menghapus kecerdasan masa lalu—hanya memperkuat bahwa manusia, dari zaman mana pun, memiliki naluri kuat untuk bertahan dan merawat sesamanya.

Rekomendasi