Deskripsi nafsu manusia dalam gamelan Singo Mengkok Sunan Drajat

Gamelan ini juga menunjukkan kondisi masyarakat kala itu.

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Deskripsi nafsu manusia dalam gamelan Singo Mengkok Sunan Drajat
Makam Sunan Drajat. ©2015 merdeka.com/dieqy hasbi widhana

Dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Drajat tidak secara langsung memasukkan unsur bahasa dan budaya Arab kepada masyarakat Jawa. Akan tetapi, Sunan Drajat menyampaikannya dengan menyesuaikan kultur masyarakat tersebut.Salah satu cara menyampaikan pitutur dan ajaran Islam tersebut salah satunya dengan menyanyikan tembang Pangkur. Tembang tersebut diiringi oleh gamelan Singo Mengkok. Gamelan Singo Mengkok adalah salah satu alat musik yang sering dimainkan oleh Sunan Drajat. Di bagian bawah gamelan tersebut terdapat ukiran patung berbentuk singa yang sedang membungkuk. Singa tersebut menghadap ke depan dan sepintas mirip dengan garudayana.Simbol Singo Mengkok ini mempunyai arti yang dalam. Makna simbolisnya yang pertama adalah Singo. Singo dalam bahasa Jawa berarti singa yang menjadi perwakilan dari tingkah laku kehewanan. Dalam hal ini dimaknai sebagai hawa nafsu manusia. Sementara mengkok merupakan bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai bengkok yang digambarkan dalam ukiran singa yang sedang membungkuk. Singa yang menunduk ini dideskripsikan sebagai singa yang menahan hawa nafsu dan hanya tunduk di hadapan penciptanya."Hewan saja bisa menahan nafsu. Masak manusia enggak bisa. Kan malah memalukan," ujar penjaga Museum Sunan Drajat, Nurhayati di kompleks Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Jumat (10/7). Menurut cerita Nurhayati, di era Sunan Drajat masyarakat masih terkungkung pada hawa nafsu dan kebanggaan untuk mengumbar diri. Dengan gamelan ini Sunan Drajat menyampaikan nasehat sekaligus gambaran masyarakat di era itu. Gamelan ini merupakan peninggalan Sunan Drajat yang paling berarti. Sebab gamelan tersebut yang telah berjasa menjadi sarana penyebaran agama Islam.

Rekomendasi