Napak Tilas Pembangunan Masjid Istiqlal

Ide pembangunan Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional sudah muncul sejak tahun 1950 atau tidak lama setelah pengakuan kedaulatan secara penuh dari Belanda kepada Indonesia pada Desember 1949. Namun, usulan ini baru diajukan kepada Presiden Soekarno pada 1953.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Napak Tilas Pembangunan Masjid Istiqlal
Beritikaf di Masjid Istiqlal. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Usia Masjid Istiqlal kini sudah mencapai 42 tahun. Lebih dari empat dekade tentu bukan usia belia. Sejak diresmikan pada 22 Februari 1978, masjid terbesar se-Asia Tenggara itu menjadi sentral aktivitas ibadah umat Islam.

Selain ibadah, Masjid Istiqlal juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial dan kegiatan umum. Jauh seperti sekarang ini, masjid yang bergaya arsitektur Islam modern internasional itu melewati pembangunan yang cukup panjang.

Ide pembangunan Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional sudah muncul sejak tahun 1950 atau tidak lama setelah pengakuan kedaulatan secara penuh dari Belanda kepada Indonesia pada Desember 1949. Namun, usulan ini baru diajukan kepada Presiden Soekarno pada 1953.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj ide pendirian Masjid Istiqlal berkat gagasan putra Hasyim Asy’ari, yaitu Abdul Wahid Hasyim. Saat itu, Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama pada 20 Desember 1949.

Pada tahun 1950, Wahid Hasyim dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di Deca Park, sebuah gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan yang dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman itu membahas rencana pembangunan masjid.

Pada pertemuan itu tercapai mufakat bahwa H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Ia juga ditunjuk sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal.

Pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal melaporkan rencana pembangunan masjid nasional kepada Presiden Soekarno. Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan ia berjanji akan membantu sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal.

Sementara itu, Wahid Hasyim mengusulkan kepada Soekarno agar masjid yang akan dibangun itu dinamakan Al-Istiqlal. Artinya masjid kemerdekaan karena mengambil momentum penyerahan kedaulatan penuh oleh Belanda kepada Indonesia.

Setelah semua usulan disetujui, Soekarno mulai menjaring para arsitek melalui sayembara. Proses sayembara akhirnya memilih Friedrich Silaban. Friedrich merupakan penganut Kristen Protestan dan anak seorang pendeta dari Tanah Batak.

Selanjutnya masuk pada tahap penentuan lokasi. Pada fase ini, terjadi silang pendapat antara Soekarno dengan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Hatta berpendapat bahwa lokasi yang paling tepat untuk pembangunan Masjid Istiqlal ada di Jl. Moh. Husni Thamrin yang kini menjadi kawasan Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan lokasi tersebut berada di lingkungan masyarakat Muslim dan lahannya sangat luas.

Sementara Soekarno mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. Hatta kurang setuju jika masjid nasional dibangun di Taman Wilhelmina lantaran lokasi tersebut banyak terdapat bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda. Membongkar bekas benteng, kata Hatta, akan memakan banyak anggaran.

Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) mencatat, Soekarno sempat mengungkap alasan bersikukuh ingin mendirikan masjid nasional di Taman Wilhelmina. Soekarno mengatakan bahwa sebelum kompeni Belanda membangun Taman Wilhelmina dan benteng, di situ berdiri sebuah masjid yang kemudian dirobohkan oleh Belanda untuk membangun dua situs tersebut. Demikian dilansir dari nu.or.id.

Silang pendapat antara Soekarno dan Hatta akhirnya menemukan titik tengah. Hatta mengalah. Lokasi pembangunan Masjid Istiqlal kemudian ditetapkan di Taman Wilhelmina. Peletakkan batu pertama di pusat ibukota Jakarta itu baru dilakukan pada 24 Agustus 1961.

Sebelum sukses diresmikan, pembangunan masjid ini tidak berjalan lancar karena berbagai macam alasan. Apalagi setelah G30S 1965, terjadi suksesi kepemimpinan di Indonesia. Akhirnya, setelah memakan waktu 17 tahun untuk menuntaskannya, pada 22 Februari 1978, masjid yang dalam bahasa Arab berarti merdeka ini, resmi dibuka.

Rekomendasi