Demi proyek idealis bantu rakyat Palestina, film Helvy ditolak 7 PH

"Crowd funding sebenarnya selebrasi kemerdekaan saya dari pendiktean penjajahan PH,"kata Helvy.

Mustiana Lestari
Oleh Mustiana Lestari - Reporter
Demi proyek idealis bantu rakyat Palestina, film Helvy ditolak 7 PH
helvy tiana rosa. ©istimewa

Sudah lebih dari sepuluh tahun penulis novel Islami, Helvy Tiana Rosa memperjuangkan diproduksinya film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Namun, setelah ditawari dan mengajukan naskah dan komitmen film ini, Helvy langsung ditolak.Memang beberapa komitmen dan prinsip dipertahankan oleh Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ ini, karena dia dan para pembaca setianya tidak mau ruh dalam novel tersebut hilang. "Saya mau cari yang sesuai benar. Ada satu scene tokoh Mas Gagah cinta banget sama Palestina, enggak ada produser yang mau padahal saya mengangkat Palestina sebagai bagian kemanusiaan bukan agama. Enggak semua produser mau saya ingin film ini menjadi film anak muda yang bicara tentang kemerdekaan Palestina walau cuma sedikit," kata Helvy Tiana Rosa saat berbincang dengan merdeka.com di Margo City, Depok, Senin (15/6).Begitupun saat kakak dari Asma Nadia ini mengutarakan akan menyumbangkan sebagian keuntungan plus keinginannya untuk memilih aktor dan aktris yang sesuai dengan karakter di buku tersebut. "Saya mau menyumbang sebagian keuntungan untuk pendidikan anak-anak di Indonesia timur dan untuk pendidikan di Palestina. Semua produser ngomong gini Mba Helvy kita kan mau bisnis bukan mau lembaga charity. Mereka juga maunya aktor dipilih dari mereka," ucap pendiri Forum Lingkar Pena itu. Alhasil karena tidak pernah ada titik temu dengan para produser dari rumah produksi, maka Helvy dengan para sahabat Mas Gagah membentuk gerakan yang disebut dengan corwd funding. Gerakan ini mengumpulkan uang untuk produksi film dengan independen agar idealisme dan ruh dalam buku tersebut terjaga. "Saya mau terlibat saya enggak mau cuma nulis naskah mereka beli saya lepas tangan. Saya harus mengawal film ini supaya dakwahnya sampai. Saya enggak mau jadi penulis yang duduk manis yang naskahnya diacak-acak. Caranya kata temen enggak ada lagi Mba Helvy harus jadi produsernya. Tapi saya enggak punya duit. Mereka bilang bikin crowd funding," cerita dia lagi. Gerakan crowrd funding ini mulai efektif berjalan pada Mei lalu dan akan terus digelar sampai bulan Oktober ini. Dengan harapan dana produksi sekitar Rp 5 M terkumpul. Sementara ini, setelah roadshow di beberapa kota Helvy dan sahabat Mas Gagah telah mengantongi uang sekitar Rp 250 juta. "Crowd funding sebenarnya selebrasi kemerdekaan saya dari pendiktean penjajahan PH yang selama ini mendominasi. Setiap orang mestinya bantu saya. Gerakan budaya ini akan gerakan sosial," tegas dia. Novel fiksi kontemporer kali ini bercerita tentang hubungan kakak-adik, Mas Gagah dan Gita yang begitu dekat dan saling mengisi. Sampai suatu ketika Mas Gagah meninggal dunia. Gita kembali mengingat Mas Gagah saat melihat Yudi, juru dakwah yang juga direktur perusahaan. Novel ini terbit pada tahun 1993 di majalah Annida, lalu 1997 baru dicetak menjadi buku dan telah 28 kali cetak ulang.

Rekomendasi