Cerita Soeharto dan Idul Fitri

Bahkan selama menjalani masa pensiun, Soeharto tidak pernah mau bertemu atau berbicara secara pribadi dengan Wiranto.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Cerita Soeharto dan Idul Fitri
soeharto. Life via thegossip-celebrity.blogspot.com

Menjelang kerusuhan Mei 1998, kondisi politik Indonesia bergolak. Protes Soeharto segera turun dari takhta RI 1, merebak di setiap penjuru negeri, seperti jamur di musim hujan. Awalnya protes hanya dilakukan dengan demonstrasi turun ke jalan, namun berkembang menjadi tindakan anarki yang mendesak pelaksanaan revolusi pemerintahan.Pada saat genting itulah Soeharto berpikir untuk melimpahkan kekuasaannya kepada orang kepercayaan, tujuannya supaya orang tersebut dapat membantunya dengan wewenang penuh untuk menyelesaikan situasi kacau dalam negeri.Soeharto berasalan, pelimpahan kekuasaan itu sesuai dengan TAP MPR no V/MPR/1998 tentang pelimpahan kewenangan kepada presiden. Pada saat itu, Soeharto menunjuk Jenderal Wiranto sebagai sosok yang tepat mendapatkannya.Kemudian secara rahasia, Wiranto diundang ke kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Undangan tersebut untuk menyatakan kesanggupan Wiranto menerima limpahan kekuasaan untuk mengatasi situasi bangsa.Namun saat itu, Wiranto tidak segera menjawab, dia meminta waktu untuk memikirkannya. Hal ini menjadikan Soeharto kecewa kepada orang kepercayaannya itu, terlebih setelah Soeharto mengetahui jika Wiranto membocorkan rahasia itu dengan mengomunikasikannya kepada B.J. Habibie.Dilansir dari buku Dari Soekarno sampai SBY tulisan Tjipta Lesmana ditulis, setelah Soeharto lengser dan B.J. Habibie diangkat sebagai presiden, satu persatu teman dekat Soeharto meninggalkannya seorang diri. Karena sikap itulah, Soeharto mulai enggan bertemu orang-orang yang meninggalkannya, termasuk Wiranto.Bahkan selama menjalani masa pensiun, Soeharto tidak pernah mau bertemu atau berbicara secara pribadi dengan Wiranto. Bahkan ketika hari ulang tahun atau perayaan hari Idul Fitri setiap tahunnya, Soeharto hanya bersedia menerima Wiranto dan keluarganya tidak lebih dari tamu biasa di rumahnya."Itulah tipikal pribadi Soeharto, sekali dia tidak senang kepada seseorang, apalagi orang itu dipersepsikan sebagai penghianat, pintu silaturahim langsung digembok rapat-rapat," kata Tjipta dalam bukunya.

Rekomendasi