Idul Fitri, gerakan kembali ke asal

Cendekiawan Muslim, Nurcholish Majdid membagi pengertian Idul Fitri menjadi dua.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Idul Fitri, gerakan kembali ke asal
Idul Fitri, gerakan kembali ke asal

Sebentar lagi umat Islam merayakan Idul Fitri. Setelah satu bulan lamanya menjalankan kewajiban puasa Ramadan, tiba saatnya seluruh Muslimin meraih kemenangan di hari yang suci.Sebagai hari raya keagamaan, awalnya perayaan Idul Fitri sarat nilai kerohanian. Dimensi sosialnya yang besar membuat Idul Fitri menjadi sebuah perayaan tahunan, yang memiliki makna sosial sangat besar.Cendekiawan Muslim, Nurcholish Majdid membagi pengertian Idul Fitri menjadi dua. Pertama Idul Fitri dimaknai sebagai peringatan perjanjian primordial manusia dengan Allah SWT.Pada tahapan ini, Idul Fitri sangat berkaitan erat dengan proses penciptaan manusia. Ketika masih dalam kandungan, manusia sudah mengikrarkan janjinya untuk bersedia mengakui dan menerima Allah SWT sebagai Tuhan yang harus dihormati dengan penuh ketaatan dan sikap berserah diri yang sempurna.Untuk itu, setelah umat Islam menempuh perjalanan spiritualnya selama Ramadan, diharapkan selalu mengingat Allah SWT sebagai bentuk ketaatan pada setiap waktu."Karena setiap jiwa manusia menerima perjanjian persaksian itu, maka setiap orang dilahirkan dengan pembawaan alami untuk "menemukan" kembali Tuhan dengan hasrat berbakti dan berserah diri kepada-Nya," kata Nurcholish dalam bukunya, dialog Ramadan bersama cak Nur.Sedangkan pengertian Idul Fitri kedua adalah gerakan kembali ke asal. Dalam hal ini, Idul Fitri dimaknai sebagai suatu perayaan untuk menyambut seseorang Muslim kembali ke kebiasaan asal, yaitu makan, minum, dan setiap kebiasaan yang tergolong wajar, termasuk berkumpul dengan keluarga."Semua itu bernilai kebaikan dan kesucian, karena semua berasal dari desain ciptaan oleh Tuhan. Karena itu berbuka puasa atau kembali makan dan minum disebut ifthar, yang secara harfiah dapat dimaknakan memenuhi fitrah yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia," lanjutnya.Pada tahapan ini, cak Nur, panggilan akrab Nurcholish, menyamakan Idul Fitri atau Lebaran dengan perayaan thanksgiving day di Amerika. Sebab, pada hari itu, seluruh rakyat Amerika bersuka ria dan bersyukur kepada Tuhan karena telah dipertemukan dan dapat berkumpul bersama keluarga.Ini sama halnya dengan budaya mudik di Indonesia. Semua Muslimin merasakan dorongan kuat untuk bertemu dengan anggota keluarga dan berkumpul bersamanya. Karena dalam suasana keakraban itulah, hikmah Idul Fitri atau thanksgiving days dapat dirasakan sepenuhnya."Hasrat untuk kembali yang paling hakiki ialah hasrat untuk kembali kepada Tuhan, asal segala hidup manusia. Terkias dengan hasrat seorang anak untuk kembali kepada kedua orang tuanya, yang diwujudkan dalam keinginan naluriah untuk berbakti kepada keduanya," terang cak Nur.

Rekomendasi