Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, baru-baru ini mengeluarkan imbauan penting kepada seluruh masyarakat di wilayahnya. Ia meminta agar warga senantiasa menjaga kondusivitas daerah.
Imbauan ini disampaikan di Manokwari pada Kamis, 28 Agustus, sebagai respons terhadap dinamika sosial politik yang berkembang. Terutama pasca insiden di Sorong, Papua Barat Daya.
Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran isu provokatif yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan. Stabilitas daerah dianggap sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Menjaga Stabilitas Keamanan Daerah
Dominggus Mandacan, yang juga Kepala Suku Besar Arfak, menegaskan bahwa stabilitas keamanan daerah adalah tanggung jawab kolektif. Semua elemen masyarakat harus berperan aktif menjaga situasi agar tetap kondusif. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah tidak boleh direspons dengan tindakan anarkis. Aspirasi dapat disalurkan melalui mekanisme yang sah dan sesuai aturan.
Setiap warga memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai. Menjaga kondusivitas Papua Barat berarti menolak segala bentuk provokasi. Hal ini juga berarti tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan. Kesadaran kolektif ini sangat penting untuk pembangunan daerah.
Advertisement
Mekanisme Penyampaian Aspirasi yang Sah
Pemerintah tidak membatasi hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi di muka umum. Namun, hal tersebut harus mengikuti ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap agenda penyampaian pendapat wajib diberitahukan kepada aparat kepolisian. Pemberitahuan ini bertujuan agar kegiatan dapat dikawal dan berjalan tertib.
Koordinator aksi juga memiliki kewajiban untuk menjamin dan bertanggung jawab atas kelancaran acara. Mereka harus memastikan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tetap menghormati hak masyarakat lain. Proses ini memastikan bahwa hak berpendapat dihormati tanpa mengganggu ketertiban umum. Ini adalah bagian integral dari menjaga kondusivitas Papua Barat.
Advertisement
Belajar dari Pengalaman Lalu: Menghindari Provokasi
Gubernur Dominggus Mandacan mengingatkan kembali peristiwa kerusuhan pada 19 Agustus 2019 di Tanah Papua. Kejadian tersebut bermula dari penyampaian aspirasi masyarakat terkait ucapan bernuansa rasisme. Sayangnya, situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang berkeinginan memecah belah persatuan. Mereka ingin menggiring situasi Papua menjadi ricuh demi mencapai kepentingan terselubung.
Aksi protes anarkis di Sorong, Papua Barat Daya, baru-baru ini juga dipicu oleh pemindahan empat tahanan politik. Insiden ini menunjukkan bagaimana isu sensitif dapat dieksploitasi jika tidak disikapi dengan bijak. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap pihak-pihak yang mencoba memprovokasi sangat diperlukan. Menjaga kondusivitas Papua Barat adalah kunci untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Sumber: AntaraNews
Advertisement