Seret Citra Soeharto, Kampanye Pasangan Capres Cawapres Jadi Monoton

Minggu, 2 Desember 2018 17:32 Reporter : Yunita Amalia
Seret Citra Soeharto, Kampanye Pasangan Capres Cawapres Jadi Monoton Soeharto dan bu tien. ©2017 istimewa

Merdeka.com - Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menyatakan tingkat koruptif di Indonesia saat ini bagaikan penyakit kanker stadium 4.

Mengingatkan Prabowo, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Ahmad Basarah mengatakan bahwa tindakan koruptif diprakarsai oleh Soeharto, bahkan bisa disebut guru korupsi. Senada dengan Basarah, Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mengatakan Soeharto layak disematkan sebagai simbol KKN.

Mencoba menengahi, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto meminta seluruh partai politik tidak lagi menyeret Soeharto di masa Pilpres.

Kisruh mencuatnya citra Soeharto dianggap tidak kreatif jika hal itu hanya demi meraih popularitas. Penilaian itu diutarakan akademisi politik dari Universitas Airlangga, Rendy Pahrun Wadipalapa. Citra Soeharto, menurut Rendy, masih cukup laku jika 'dijual' saat ini dengan target masyarakat yang merasakan stabilitas harga komoditas.

Mengingat, di era pria dengan julukan the smiling general itu segala bahan pokok cenderung murah, tanpa ada pergolakan berarti.

"Soeharto sebagai 'komoditas politik' masih relevan dan diperebutkan. Masih banyak kelompok yang hendak meminjam image Soeharto untuk membangkitkan kenangan masa lampau; stabilitas, harga murah," ujar Rendy kepada merdeka.com, Minggu (2/12).

Citra Soeharto yang hendak dibangun kemudian mengundang reaksi risih dari pihak atau kelompok yang kurang berkenan. Seperti yang diperlihatkan Basarah ataupun Raja Juli.

"Banyak pula kelompok yang memberi resistensi atasnya, bisa dari kalangan kritis dan intelektual, atau dari kalangan faksi politik lain yang merasa terganggu dengan bangkitnya image Soeharto," tukasnya.

Bukan soal siapa yang diuntungkan atau dirugikan dari mencuatnya citra Soeharto di masa Pilpres sekarang. Namun, imbuh Rendy, menjual citra masa lalu dan ditarik di masa sekarang justru tidak menunjukan mutu baik dalam berkampanye.

Ia menambahkan, di masa kampanye saat ini, seharusnya pasangan capres-cawapres berikut dengan tim kampanyenya menunjukkan mutu dan kualitas kampanye masing-masing. Tidak menarik isu lama, dan masih menjadi perdebatan.

"Bukan soal dirugikan atau tidak. Ini soal kreatifitas konten dan mutu kampanye. Menarik kembali image masa lalu tentu tidak kreatif," tukasnya.

Sementara itu, merdeka.com mencoba menghubungi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Lodewijk Freidrich Paulus dan Juru Bicara TKN, Ace Hasan Syadzily guna meminta klarifikasi atas pernyataan Airlangga. Namun belum ada respons. Ace mengatakan dirinya tidak berkomentar perihal tersebut. [ded]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini