Analisis Pakar Psikologi: Siapa Capres-Cawapres Paling Kompak dan Punya Chemistry?

Dewi menjelaskan, pasangan capres dan wakilnya sepatutnya memiliki sikap keterpaduan, kompak, dan memiliki chemistry.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Analisis Pakar Psikologi: Siapa Capres-Cawapres Paling Kompak dan Punya Chemistry?
Analisis Pakar Psikologi: Siapa Capres-Cawapres Paling Kompak dan Punya Chemistry? (Merdeka.com)

Pakar Psikologi dan Personal Branding menganalisa penampilan, gestur & interaksi para capres dan cawapres

Pakar Psikologi dan Personal Branding Dewi Haroen menganalisa penampilan, gestur dan interaksi para capres dan cawapres saat momen pengambilan nomor urut di KPU pada Selasa (14/11).

Dewi menjelaskan, pasangan capres dan wakilnya sepatutnya memiliki sikap keterpaduan, kompak, dan memiliki chemistry.

Menurut Dewi, tiga karakter itu dilihatnya muncul pada pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN). Gestur kebersamaan dan keharmonisan pasangan ini dinilainya sudah terbangun.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Tampak jelas chemistry antara keduanya sudah terbentuk. Jadi bahasa gerak tubuh yang terlihat bersifat spontan keluar secara natural, saling support dan pengertian di antara mereka,” kata Dewi dalam keterangannya, Jumat (17/11).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Chemistry ini, tambahnya, tidak bisa dipaksakan. Namun terbentuk dari karakter saling mengisi dan meleburkan ego satu sama lain.

“Istilahnya seperti dwitunggal,” imbuh Dewi.

Sementara itu, Dewi menilai duet Ganjar Pranowo-Mahfud MD ibarat dua matahari kembar yang justru saling bersaing<br>
Dok. Istimewa

 Menurutnya, aura akademisi dan pengalaman jam terbang di pemerintahan yang tinggi dari Mahfud, bisa jadi mengusik ego Ganjar sebagai capres 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Ini sulit dipungkiri, terlihat kasat mata dengan perbedaan warna baju,” ungkap Dewi.

Sedangkan pasangan Prabowo-Gibran, kata Dewi, tak ubahnya dua sosok yang dipaksakan jadi satu semata agar bisa memenangkan Pilpres.<br>
Dok. Istimewa

Keduanya yang terpisah usia dan pengalaman yang jauh bisa menjadi jarak sendiri. Apalagi anak muda, lanjutnya, mana ada bawahan atau ajudan yang bisa menyatu dengan tuannya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Gibran dengan pengalaman sebagai Walikota Solo bisa apa bantu Prabowo? Prabowo perlu Gibran sekadar untuk bisa menang pilpres karena perlu logistik, bantuan aparatur/TNI untuk menang,” ujar Dewi, psikolog yang juga penulis buku dan pakar public relation ini.

Kekompakan dan chemistry antara presiden dan wakil presiden, ujar Dewi, menjadi syarat mutlak dalam memimpin Indonesia ke depan.

Dengan begitu, kata Dewi, wapres tak semata sebagai ban serep.

Tapi harus ikut membantu presiden dengan mengelola permasalahan dalam dan luar negeri yang saling terkait.

"Tantangan RI ke depan butuh pasangan presiden - wapres yang saling support dan saling mengisi karena kondisi global yang tak menentu serta berat dengan perang atau ketegangan antarnegara di luar,"

Pakar Psikologi dan Personal Branding Dewi Haroen

Merdeka.com

Rekomendasi