Dewan Pers didorong untuk melakukan penyempurnaan dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dengan menambahkan modul baru. Rekomendasi ini datang dari pakar neurosains terkemuka, Dr.dr. Taufiq F Pasiak, yang mengusulkan integrasi komponen neuro-behavioral.
Modul yang diusulkan adalah Journalist Neuro-Behavioral Profile berbasis Pash Brains, yang dirancang untuk menjadi bagian dari asesmen UKW. Penambahan ini bertujuan untuk mengukur dimensi psikologis dan neuro-behavioral wartawan, yang dinilai sangat relevan dengan kualitas jurnalisme di Indonesia.
Usulan ini disampaikan Taufiq pada acara penyegaran penguji UKW yang diselenggarakan di Bekasi, Jawa Barat, pada hari Sabtu (09/11). Dekan Fakultas Kedokteran UPN Jakarta tersebut menekankan pentingnya langkah ini untuk menciptakan jurnalis yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan kesadaran etis yang tinggi.
Advertisement
Advertisement
Kualitas jurnalisme tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dalam meliput dan menulis berita, tetapi juga oleh dimensi psikologis dan perilaku wartawan. Dr.dr. Taufiq F Pasiak, yang juga pakar di bidang Neurosains, Perilaku, dan Spiritualitas, menjelaskan bahwa aspek neuro-behavioral sangat krusial dalam membentuk karakter dan profesionalisme seorang jurnalis.
Penambahan komponen ini dalam Uji Kompetensi Wartawan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kesiapan mental dan etis seorang wartawan. Ini penting untuk memastikan bahwa berita yang dipublikasikan tidak hanya akurat, tetapi juga disampaikan dengan empati dan pertimbangan moral yang matang.
Dengan mengukur dimensi ini, Dewan Pers dapat mendorong para jurnalis untuk mengembangkan kemampuan refleksi diri dan menjaga integritas dalam setiap tugas peliputan. Hal ini secara langsung akan berkontribusi pada peningkatan kualitas konten berita dan kepercayaan publik terhadap media.
Advertisement
Advertisement
Modul Pash Brains yang diusulkan oleh Taufiq mencakup beberapa aspek penting yang berkaitan erat dengan kerja jurnalistik. Komponen ini dirancang untuk menilai berbagai dimensi perilaku dan psikologis yang memengaruhi kinerja seorang wartawan dalam Uji Kompetensi Wartawan.
Salah satu aspek adalah professional empathy (insula), yang mengukur kemampuan wartawan untuk tidak mudah terprovokasi dan memiliki empati proporsional terhadap subjek berita. Ini penting agar berita disampaikan secara objektif tanpa bias emosional yang berlebihan.
Kemudian, ada moral reasoning (cingulate), yang berkaitan dengan kesadaran etis dan dampak sosial dari berita yang dipublikasikan. Komponen ini memastikan jurnalis memahami konsekuensi dari setiap informasi yang mereka sampaikan. Selanjutnya, habitual integrity (ganglia basalis) mengukur konsistensi prosedur dan verifikasi data, menjamin keakuratan informasi.
Advertisement
Terakhir, narrative meaning (temporal) menguji sensitivitas konteks, sejarah, dan makna dalam penyusunan narasi berita. Aspek ini membantu wartawan untuk menyajikan cerita yang kaya akan makna dan relevansi bagi pembaca.
Advertisement
Taufiq menegaskan bahwa asesmen berbasis Pash Brains ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) teknis yang sudah ada. Sebaliknya, komponen ini diusulkan sebagai pelengkap yang memperkaya proses penilaian. "Asesmen berbasis pash brains ini bukan untuk mengganti UKW teknis," katanya, menekankan bahwa fokusnya adalah pada dimensi yang berbeda namun saling mendukung.
Lebih lanjut, Taufiq juga menjelaskan bahwa modul ini tidak bertujuan untuk menilai "waras/tidak waras" seorang wartawan, atau untuk menghakimi serta melabeli mereka. Tujuannya adalah murni sebagai alat refleksi profesional. Melalui refleksi ini, diharapkan para jurnalis dapat terus meningkatkan kualitas diri dan etika dalam menjalankan profesinya.
Rekomendasi ini diharapkan dapat diintegrasikan dalam struktur UKW di masa depan, demi menciptakan ekosistem jurnalisme yang lebih baik. Dengan demikian, jurnalis di Indonesia tidak hanya akan kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas tinggi dan kesadaran etis yang kuat, yang pada akhirnya dapat mengangkat martabat jurnalisme secara keseluruhan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews