Gubernur Bali Wayan Koster baru-baru ini memberikan isyarat kuat mengenai suksesi kepemimpinan di Pulau Dewata. Dalam sebuah acara di Denpasar, Koster menunjuk Wakil Gubernur I Nyoman Giri Prasta sebagai figur yang akan maju dalam pemilihan Gubernur Bali 2029. Isyarat ini disampaikan saat Kegiatan Optimalisasi Pungutan Wisatawan Asing pada Kamis (30/10).
Penunjukan tersebut tidak hanya sekadar kode, melainkan disertai dengan pesan penting terkait kelanjutan Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125. Koster menegaskan bahwa calon pemimpin Bali berikutnya harus berkomitmen penuh untuk menjalankan haluan pembangunan ini. Hal ini menjadi kunci untuk mendapatkan restu dan keberhasilan dalam memimpin.
Isyarat politik ini sontak disambut dengan senyum dan sorakan dari deretan pejabat Pemprov Bali serta pelaku usaha pariwisata yang hadir. Momen tersebut menjadi perhatian publik, mengingat pentingnya kesinambungan visi pembangunan Bali ke depan. Koster menekankan bahwa pemahaman terhadap haluan pembangunan ini sangat krusial bagi pemimpin masa depan.
Advertisement
Advertisement
Isyarat Kuat dan Reaksi Para Pejabat
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Wayan Koster secara eksplisit meminta I Nyoman Giri Prasta untuk menjalankan Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125. Koster menyampaikan, "Kalau tidak mau melaksanakan maka dia tidak akan mendapat restu untuk menjalankan tugas sebagai pemimpin yang berhasil menyejahterakan masyarakat, jadi hati-hati Pak Wagub, nanti karena akan maju menjadi gubernur, Pak Wagub harus paham." Pernyataan ini menegaskan harapan Koster terhadap komitmen Giri Prasta.
Isyarat yang dilontarkan oleh Koster tersebut disambut positif oleh para audiens. Senyum merekah dan sorakan kegembiraan terdengar dari para pejabat Pemprov Bali serta pelaku usaha pariwisata yang menyaksikan momen tersebut. Reaksi ini menunjukkan adanya dukungan atau setidaknya penerimaan terhadap sinyal politik yang disampaikan oleh Gubernur Koster.
Koster, yang telah memimpin Bali selama dua periode, menjelaskan bahwa menjalankan pembangunan Bali tidak cukup hanya dengan memahami aspek sekala atau duniawi. Pemimpin juga harus memahami aspek niskala, yang semuanya telah terangkum dalam haluan pembangunan tersebut. Hal ini menunjukkan kedalaman visi Koster dalam merancang masa depan Bali.
Advertisement
Advertisement
Pondasi Haluan Pembangunan Bali Era Baru
Haluan Pembangunan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125 merupakan dokumen strategis yang disusun pada periode pertama kepemimpinan Gubernur Koster. Dokumen ini bahkan telah diupacarai di Pura Agung Besakih, menunjukkan keseriusan dan komitmen Pemprov Bali dalam menjalankan pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai lokal. Upacara ini memberikan dimensi spiritual pada rencana pembangunan tersebut.
Koster menjelaskan bahwa haluan pembangunan ini berisi detail arah Bali hingga tahun 2125. "Sampai 2125 sudah detail diatur semuanya tolong dibaca supaya kita bisa melihat bagaimana arah Bali ke depan, wujud, tantangan, dan permasalahan yang kita hadapi sampai 100 tahun ke depan supaya kita bisa mengarahkan diri kita masing-masing dan mengambil peran," ujar Koster. Ini menunjukkan bahwa haluan tersebut dirancang sebagai peta jalan jangka panjang.
Berkaca dari Haluan Pembangunan ini, Gubernur Koster berpendapat bahwa pejabat di Bali tidak perlu lagi melakukan studi banding ke luar negeri untuk mencari percontohan. Semua arah pembangunan Bali yang relevan dan komprehensif telah termuat di dalamnya. Hal ini menekankan kepercayaan Koster terhadap kelengkapan dan relevansi dokumen tersebut sebagai panduan utama.
Advertisement
Advertisement
Tantangan dan Komitmen Energi Bali
Salah satu pesan spesifik yang disampaikan Koster kepada Giri Prasta adalah mengenai pentingnya menjaga keseimbangan pasokan listrik dan energi di Bali. Sebagai daerah pariwisata, Bali sangat rentan terhadap masalah kelistrikan. Kestabilan pasokan energi menjadi krusial untuk menopang sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi pulau ini.
Koster menceritakan pengalamannya ketika PLN menawarkan tambahan energi sebesar 500 MW ke Bali. Namun, tawaran tersebut ditolak karena Bali saat ini saja sudah sulit mengendalikan 350 MW listrik dari PLTU Paiton. Penolakan ini didasari kekhawatiran Pemprov Bali akan potensi gangguan pada sektor pariwisata akibat masalah kelistrikan, seperti yang pernah terjadi beberapa bulan sebelumnya.
Pemprov Bali khawatir insiden pemadaman listrik yang sempat terjadi akan terulang jika pasokan listrik tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, Koster meminta Giri Prasta untuk menjaga komitmen dalam mengelola energi. "Pak Wagub harus ingat lagi itu, harus komitmen," ucap Koster, menekankan pentingnya konsistensi dalam kebijakan energi demi keberlanjutan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Bali.
Advertisement
Sumber: AntaraNews