Jejak Romantisme Gerindra-PKS yang Kini Pisah Jalan

Hubungan Gerindra dan PKS kian renggang jelang Pemilu 2024. Keduanya bahkan memutuskan pisah jalan pada pemilu kali ini. Setelah dalam dua periode pemilu sebelumnya, Gerindra dan PKS selalu kompak mengusung Prabowo sebagai Capres.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Jejak Romantisme Gerindra-PKS yang Kini Pisah Jalan
Prabowo dan Sohibul Iman adakan jumpa pers. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Hubungan Gerindra dan PKS kian renggang jelang Pemilu 2024. Keduanya bahkan memutuskan pisah jalan pada pemilu kali ini. Setelah dalam dua periode pemilu sebelumnya, Gerindra dan PKS selalu kompak mengusung Prabowo sebagai Capres.

"Kita sudah sepakat kita akan menghormati keputusan politik masing-masing. Kita masing-masing akan menghormati apapun keputusan politik Pak Surya dengan NasDem, sebagai sahabat apapun kita hormati keputusan politik," ujar Prabowo.

"Mereka pun akan hormati keputusan politik kami, jadi koalisi itu bagian dari keputusan politik, jalan yang dipilih oleh masing-masing," sambungnya.

Ungkapan tersebut diutarakan setelah Prabowo bertemu Ketum NasDem Surya Paloh di Hambalang, Bogor, Minggu (5/3). NasDem memilih dukung Anies Baswedan sebagai Capres. Sementara Gerindra memutuskan untuk kembali mengusung Prabowo di Pemilu 2024.

Pada Pemilu 2014 dan 2019, Gerindra dan PKS selalu bersatu. Dua parpol ini kompak mengusung Prabowo sebagai calon presiden.

Pada Pemilu 2014, koalisi Gerindra PKS mengusung Prabowo-Hatta Rajasa. Kemudian Pemilu 2019, koalisi Gerindra-PKS mengusung Prabowo dan Sandiaga.

Hubungan keduanya renggang. Seusai kalah di Pemilu 2019, Prabowo memutuskan bergabung dengan koalisi PDIP dan Jokowi. Sementara PKS memilih tetap sebagai partai oposisi.

Berikut romantisme Gerindra dan PKS selama dua pemiilu lalu:

Prabowo pernah mengatakan apabila PKS lebih dari sekadar teman. Tapi sahabat sejati. Bahkan rekan segajah. Bukan lagi sekutu dalam berkoalisi.

"Saya dan PKS ada hubungan khusus, mereka enggak mau dikatakan sekutu, tapi ingin dikatakan sebagai segajah."

"Mereka tidak meninggalkan Prabowo dan Gerindra di kala sulit, jadi Prabowo tidak akan meninggalkan PKS," kata Prabowo pada Milad PKS ke-20 tahun 2018.

Prabowo memuji kader PKS setelah PKS secara resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra untuk mendukung pencapresannya pada Pemilu 2014.

"Dan kita berhasil koalisi dengan PKS. Kok orang PKS tidak seseram yang dibayangkan."

"Dan ternyata kader PKS jadi kader Gerindra jadi kalau ketemu ya kawan lama semua," kata Prabowo di Kantor DPP PKS Jakarta, Sabtu (17/5/2014).

Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri memuji sikap Ketum Gerindra, Prabowo Subianto. Kala itu, mantan Danjen Kopassus tersebut, siap mendukung tokoh lain yang lebih baik pada Pilpres 2019.

"Luar biasa, itu negarawan, itu sangat luar biasa. Itu bahasa negarawan. Cukup bagus. Kalau ada yang lebih bagus, artinya dia ingin menang juga. Menang tidak hanya ingin berkuasa, tapi ingin memberikan yang lebih kepada bangsa ini," ujar Salim seusai pembukaan Ijtimak Ulama di Hotel Peninsula, Jl S Parman, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018) malam.

Salim menilai, Prabowo sudah menunjukkan rasa legawa bila pada akhirnya tak maju sebagai capres lagi. Meski begitu, hingga saat ini PKS memastikan masih mendukung Prabowo untuk menjadi capres pada Pilpres 2019.

Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Aljufrie menegaskan, PKS dan umat Islam akan total memenangkan Prabowo di Pemilu 2019.

"Insya Allah, sebagai bagian tubuh umat ini kita total menangkan capres pilihan ijtima ulama, Prabowo-Sandi," kata Salim pada Minggu 7 April 2019 lalu.

Mensos era SBY itu menyebutkan waktu yang tersedia hingga masa tenang akan dimaksimalkan seluruh kader dan simpatisan untuk mengetuk setiap pintu rumah warga guna memenangkan Prabowo-Sandi.

"PKS sebagai bagian dari umat sudah melaporkan perjuangannya kepada tokoh-tokoh umat, para kiai, habaib, ulama, ustaz, yang kami langsung datangi," katanya.

Reporter Magang: Alya Fathinah

Ikuti perkembangan terkini seputar berita Pemilu 2024 hanya di merdeka.com

Rekomendasi