Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar Maman Abdurahman menilai, belum saatnya menggelar rapat pleno guna mengevaluasi hasil Pileg 2019 untuk melihat kinerja Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. Salah satunya karena masih ada beberapa sengketa gugatan di MK.
"Tentunya kita harus menunggu terlebih dahulu hasil final di sana," kata Maman dalam keterangannya, Sabtu (27/7).
Menurutnya, yang diperlukan partai berlambang pohon beringin saat ini adalah mengedepankan soliditas partai. Beragam agenda eksternal partai masih harus dijalankan. Dia menegaskan, isu-isu seperti itu justru semakin melemahkan posisi tawar Golkar. Khususnya dalam pembahasan komposisi eksekutif dan legislatif.
"Tentunya yang tepuk tangan orang lain. Dan yang lebih membahayakan apabila target target tidak tercapai, maka akan digunakan kembali sebagai alasan untuk mendeskriditkan kinerja Airlangga dan DPP partai Golkar," ucapnya.
Karenanya, dia menyarankan agar seluruh kader bersabar, dan tabayyun. "Jadi saran saya kita bersatu dan tabayyun dulu saja semuanya," ucapnya.
Direktur Eksekutif Para Syndicate, Ari Nurcahyo mengamati hangatnya suasana politik di tubuh Partai Golkar jelang Musyawarah Nasional (Munas). Dia melihat peluang Bambang Soesatyo mengalahkan sang petahana Airlangga Hartarto di perebutan kursi pucuk pimpinan partai berlambang beringin.
Salah satu celah bagi Bamsoet yakni perolehan suara Golkar di Pemilu 2019. Golkar memang masih menempati 3 besar partai pemenang pemilu, tapi masalahnya kursi partai di DPR berkurang yakni 85 kursi. Raihan kursi di 2019 itu juga menurun dibandingkan capaian di 2014 yakni 91 kursi. Dan jauh dari target awal sebanyak 110 kursi.
"Banyak persoalan yang menjadi catatan di kepemimpinan Airlangga. Meskipun Golkar posisinya nomor dua (dari jumlah kepemilikan kursi), tetap ini bagian kelemahan Pak Airlangga. Peluang-peluang ini sedang dimanfaatkan. Namanya penantang pasti memiliki peluang dari kontestasi," kata Ari di kantornya, Jakarta, Jumat (19/7).
Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com