Sekjen Gerindra Ahmad Muzani menyayangkan pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut 'berani jika diajak berantem' kepada relawannya di Bogor, Sabtu lalu (4/5). Muzani menilai ucapan tersebut tidak mendinginkan suasana di tahun politik.
"Ketika presiden menyatakan bahwa kalau diajak berantem harus berani saya kira kami sangat menyesalkan. Karena itu bukan sebuah ajakan dari seorang pemimpin, kepala negara yang mempersatukan, menyatukan, mempertahankan persaudaraan, yang menyejukan dalam suasana tahun politik ini," katanya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/8).
"Menurut saya pernyataan itu pernyataan sebagai tim sukses bukan sebagai seorang kepala negara, apalagi lagi kemudian bersamaan dengan itu ada deklarasi melanjutkan lawan dan libas," sambungnya.
Wakil Ketua MPR ini mengimbau agar para pihak tenang dan tak berlebihan menanggapi pernyataan tersebut. Baginya, perbedaan pilihan politik wajar asal jangan membuat sesama anak bangsa berkelahi.
"Bahwa kita ada perbedaan pilihan presiden wakil presiden, iya. Kita ada perbedaan parpol jelas. Kita ada perbedaan agama tentu saja tetapi jangan lah perbedaan itu menyebabkan kita berantem," imbuh Muzani.
Sebagai pihak di luar pemerintah Gerindra pun tidak akan terpancing emosi. Menurut Muzani, jika meladeni ucapan tersebut akan membuat bangsa menjadi rusak.
"Berantem itu hanya akan terjadi kalau misalnya yang satu ngajak berantem, yang satu ngeladeni, lo jual gue beli, tetapi kalau tidak ada yang beli tidak ada transaksi, berantem itu kalau ada yang ngajak diladeni. Kami enggak akan ngeladeni kayak begitu karena itu akan membuat kerusakan lebih parah bagi bangsa Indonesia," imbuhnya.