PDIP bela Jokowi: Kalau citra jelek, melamar saja ditolak calon mertua

PDIP bela Jokowi: Kalau citra jelek, melamar saja ditolak calon mertua. Menurutnya, pencitraan tidak masalah asal diiringi dengan kerja nyata yang bagus dan program yang terukur. Beda halnya jika hanya bergaya manis di depan publik.

Muhammad Genantan Saputra
PDIP bela Jokowi: Kalau citra jelek, melamar saja ditolak calon mertua
hendrawan supratikno. ©dpr.go.id

Artikel yang berjudul ;Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths' menilai pemerintah Presiden Joko Widodo melakukan pencitraan. Kolom tersebut dimuat oleh Asia Times, yang ditulis Jurnalis John Macbeth.

Menanggapi hal itu, Politisi PDIP Hendrawan Supratikno menilai pencitraan itu sangat perlu. Sebab, dengan citra yang bagus, reputasi seseorang akan bernilai.

"Orang masih bicara perlu tidaknya pencitraan. Pencitraan itu perlu! titik. Itu hukum pertama. Kalau citranya jelek, melamar saja ditolak calon mertua. Pencitraan itu sangat penting," kata Hendrawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (31/1).

Menurutnya, pencitraan tidak masalah asal diiringi dengan kerja nyata yang bagus dan program yang terukur. Beda halnya jika hanya bergaya manis di depan publik.

"Sekarang persoalannya adalah sumber citra yang baik, pencitraan itu darimana? Apakah dari kerja riil atau prestasi yang betul-betul terukur atau dari sekedar gaya-gaya pose, itu harus dibedakan. Saya ingin jadi anu pencitraan, supaya kalau ceramah honornya tinggi, wartawan juga gitu sehingga dijadikan direksi," tambahnya.

Dia pun tak setuju dengan muatan yang ditulis John Macbeth. Menurut Hendrawan, tulisan itu untuk mencari rating semata. Artinya sekedar meningkatkan para trafik para pembaca dan komoditi pasar.

"Ya tidak. Kalau menurut kami ini cari sensasi, supaya apa? Pelanggannya di pasar Indonesia meningkat. Pasar oposisi kan cukup besar di sini. Kan gitu, pakai hitung-hitungan dagang lah," tandasnya.

Rekomendasi