Analisa Ahok soal kekalahan adiknya, sampai singgung teori Lincoln

Ahok: Teori Abraham Lincoln, kalau mau menguji karakter orang mesti kasih kekuasaan. Kalau tidak amanah, selesai kamu.

Wisnoe Moerti
Oleh Wisnoe Moerti - Reporter
Analisa Ahok soal kekalahan adiknya, sampai singgung teori Lincoln
Basuri Tjahaja Purnama. ©2014 Merdeka.com

Dari hasil hitung cepat atau quick count lembaga survei Cyrus Network, calon bupati petahana Belitung Timur Basuri Tjahaja Purnama dan pasangannya Fezzi Uktolseja keok dari rivalnya pasangan Yuslih Ihza-Burrhanuddin. Yuslih tak lain kakak dari pakar hukum tata negara yang juga Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra.

Ternyata, kekalahan Basuri sudah diprediksi kakak kandungnya yang juga Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dia menilai wajar saja adik kandungnya kalah dalam hasil hitung cepat Pilkada Belitung Timur. Ahok menganalisa kekalahan adiknya.

Pertama, tidak memanfaatkan peluang kampanye yang jauh lebih panjang dari rivalnya. Maksud Ahok, sebagai incumbent atau petahana, Basuri punya waktu kampanye lima tahun untuk memberikan yang terbaik bagi warganya.

"Jadi kalau kamu petahana, tidak melakukan sesuatu yang luar biasa kepada warga, menaruh harapan, kamu mau kampanye kayak apa juga nggak guna. Orang nggak bakalan pilih kok," ujar Ahok saat ditemui di Balaikota, kemarin.

Calon petahana cenderung mendapat sorotan lebih besar. Ini berkaitan dengan bagaimana menjalankan amanah yang diberikan rakyat selama lima tahun. Ahok menyinggung soal teori Abraham Lincoln, Presiden ke-17 Amerika Serikat yang menyebutkan karakteristik seseorang dengan kekuasaan yang bermuara pada penilaian rakyat.

"Teori Abraham Lincoln, kalau mau menguji karakter orang mesti kasih kekuasaan. Kalau kamu diberikan amanat tidak bisa dipercaya, selesai kamu. Itu yang terjadi. Waktu saya turun, wakil saya naik kan. Enggak dipercaya. Nah kita lihat saja," katanya.

Analisa kedua, soal fasilitas publik yang kurang diprioritaskan. Ahok mengaku sudah mengingatkan adiknya untuk memberikan pelayanan dasar yang bisa memuaskan hati rakyat. Semisal fasilitas kesehatan dan pendidikan. Dia menceritakan, Basuri diingatkan untuk menyediakan pendingin ruangan meski di rumah sakit kelas 3. Selain itu, dia juga menyarankan memperbaiki fasilitas jalan di rumah sakit. Ini demi kenyamanan warga.

"Saya dulu pernah bilang sama dia, Anda harus konsentrasi di situ. Sebetulnya rakyat itu yang penting kesehatan, pendidikan. Tapi kan masing-masing orang pikirannya berbeda kan, nah dia berpikir mesti bikin lapangan terbang dan lainnya. Betul, tapi masih jauh gitu lho," jelasnya.

Analisa ketiga, ketidakpuasan rakyat. Saat ini rakyat sudah jauh lebih pandai dan cerdas dalam menentukan pemimpin. Ketidakpuasan rakyat pada pemimpin sebelumnya berujung pada kekalahan petahana di pertarungan pilkada. Rakyat cenderung memilih orang baru ketimbang memilih sosok lama yang nyatanya tidak memberikan kepuasan.

"Mereka sekarang sudah main keluarkan daftar janji-janji adik saya yang tidak dipenuhi. Artinya orang Belitung Timur juga mau lebih baik, coba yang baru. Makanya saya katakan, kalau Anda biasa-biasa saja, Anda nggak mungkin dipilih."

Analisa keempat soal hukuman rakyat. Untuk analisa ini, Ahok membandingkan kinerja Basuri dengannya. Ahok menceritakan, saat dirinya tak lagi menjabat Bupati Belitung Timur, masyarakat mendorong adiknya untuk maju. Kemungkinan alasannya karena masyarakat menilai Basuri setali tiga uang dengannya yang mengklaim sudah meraih simpati masyarakat karena kinerja maksimal. Menurut Ahok, harapan masyarakat terhadap adiknya sangat tinggi. Tapi ternyata masyarakat kecewa.

"Ternyata dalam perjalanan mereka bilang, 'Adik bapak nggak seperti bapak, tidak serajin bapak'. Saya bisa ke lapangan, Sabtu-Minggu saya dateng ke kawinan, masyarakat sms saya bales. Ini sesuatu yang berbeda. Nah adik saya ini beda. Makanya kalau dia terus, saya kira nggak bisa," katanya.

Mantan Politisi Partai Gerindra ini melihat, kekalahan adiknya di Pilkada Belitung Timur sebagai bentuk hukuman dari masyarakat karena kinerjanya tak memuaskan. Sikap kritis masyarakat berujung tak terpilihnya kembali Basuri.

"Begitu kamu nggak kerja dengan baik ya sudah dihukum," tegasnya.

Rekomendasi