Akhir perjalanan politik Ustaz Hilmi, urus pesantren di Lembang

Hilmi Aminuddin menjadi tokoh sentral keputusan politik yang diambil PKS.

Randy Ferdi Firdaus
Oleh Randy Ferdi Firdaus - Reporter
Akhir perjalanan politik Ustaz Hilmi, urus pesantren di Lembang
Hilmi Aminuddin diperiksa KPK. ©2013 merdeka.com/dwi narwoko

Sosok Ustaz Hilmi Aminuddin selama ini menjadi tokoh sentral dalam tubuh Partai Keadilan Sejahtera. Semua keputusan penting arah politik PKS ada di tangan Hilmi.Bertahun-tahun menakhodai PKS, di usianya yang sudah senja Hilmi tak lagi menjabat sebagai ketua majelis syuro PKS. Dalam pemilihan raya (Pemira) pekan lalu, Hilmi digantikan Salim Segaf Al Jufri.Pergantian tak hanya pada level majelis syuro. Pemira juga memilih dewan pimpinan pusat PKS. Nama Muhammad Sohibul Iman terpilih menjadi presiden PKS periode 2015-2020.Pergantian pucuk pimpinan paling menyedot perhatian adalah posisi ketua majelis Syuro. Lalu apa yang dikerjakan Hilmi setelah tak lagi aktif di partai?Usia yang sudah tidak muda lagi, salah satu alasan Hilmi tak lagi aktif menjadi pengurus inti di PKS. Namun dia menekankan, akan terus berdakwah dan mencari pemimpin muda sebagai generasi penerus bangsa."Aktivitas saya tetap berkontribusi untuk kokohkan Islam yang rahmatan lil alamin. Salah satu yang bisa dilakukan saya tetap urus pesantren di Lembang (Kabupaten Bandung Barat). Yang Insya Allah akan mengakomodasi kader Islam," kata Ustaz Hilmi.Hilmi menjadi ketua majelis syuro PKS sejak tahun 2005 menggantikan Rahmat Abdullah yang meninggal dunia. Pada tahun 2010, Hilmi kembali terpilih menjadi ketua Majelis Syuro dalam Pemilihan Raya (Pemira) Majelis Syuro PKS hingga masa jabatan 2015.Hilmi juga sempat ikut terseret kasus korupsi yang melibatkan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Hilmi bahkan sempat dipanggil KPK untuk dimintai keterangan perihal kasus korupsi pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.


Hilmi Aminuddin merupakan pendiri gerakan dakwah atau yang di era 1980 hingga tahun 1990-an dikenal dengan sebutan harakah tarbiyah. Dia adalah putra Danu Muhammad Hasan, satu dari tiga tokoh penting Darul Islam (Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kartosoewirjo.Pada usia enam tahun, Hilmi memulai pendidikannya dengan mendaftar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Setelah lulus, dia berkelana ke sejumlah pesantren di Jawa.Pada tahun 1973, Hilmi memutuskan untuk berangkat ke Arab Saudi dan belajar di Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah. Selama enam tahun menuntut ilmu di universitas tersebut, Hilmi kerap berkumpul dengan Yusuf Supendi yang juga merupakan tokoh perintis PKS (sekarang bergabung ke Hanura). Kala itu, Yusuf sedang berkuliah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh.Pada 2015 ini, Hilmi memutuskan untuk berhenti aktif beraktivitas sebagai petinggi PKS. Dia memilih untuk fokus mengurus pesantrennya yang berada di Lembang, Jawa Barat."Di rumah saya juga sengaja membuat peristirahatan hari tua. Tapi tetap untuk memberikan kader Islam. Saya berharap kepemimpinan kader muda yang ada, terlahirlah kader PKS yang mampu kontribusi kehidupan berbangsa dan bernegara," terang dia.Jabatan Hilmi di ketua majelis syuro PKS digantikan oleh Salim Segaf Al Jufri mantan menteri Sosial era Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebelumnya, Salim adalah Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Kesultanan Oman sejak Desember 2005 menggantikan Muhammad Maftuh Basyuni.Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah PKS, Direktur Perwakilan WAMY (World Assembly of Muslim Youth) untuk Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan juga Direktur Syariah Consulting Center.Salim juga Direktur Syariah Consulting Center dan aktif mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) dan Dirasat Islamiyah Jakarta. Selain itu, ia adalah cucu dari ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Aljufrie atau lebih dikenal dengan nama 'Guru Tua' pendiri yayasan Al-Khairaat.

Rekomendasi