Direktur Eksekutif Survei dan Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara, menyesalkan langkah Presiden Jokowi yang lagi-lagi mengumbar jabatan, guna membagi-bagi jatah posisi kepada para relawan untuk masuk ke dalam struktur pemerintahannya.Hal ini makin disoroti, dengan pengangkatan Teten Masduki dan Sukardi Rinakit sebagai juru bicara presiden, sesuai keppres yang dikeluarkan Jokowi pada Senin (11/5) kemarin."Soal juru bicara (Jubir), saya beranggapan Jokowi kembali telah melanggar janjinya untuk kembali membagi-bagikan jatah istana kepada para relawannya," ujar Igor saat dihubungi merdeka.com, Selasa (12/5).Igor pun mempertanyakan kebijakan Jokowi, yang baru mengangkat jubirnya saat ini sementara pemerintahannya sudah berjalan 6 bulan. Padahal sebagai kepala negara, lanjut Igor, seharusnya Jokowi dari awal menjabat sudah memiliki jubir seperti halnya presiden-presiden RI sebelumnya."Ya sudah saatnya Jokowi punya jubir, agar tidak ada lagi I don't read, what I sign. Lalu kalau ada yang tanya kenapa tidak dari awal punya jubir, ya itu mungkin karena Jokowi terlalu percaya diri, dengan popularitas pribadinya sendiri di mata publik, di mana figurnya dianggap adalah komunikator yang baik bagi rakyat," ujar Igor."Dan ternyata semua itu meleset. Karena salah satu problem pemerintahan Jokowi sekarang ini justru 'gaduh' karena persoalan komunikasinya," cetus Igor yang juga Pengamat Politik Universitas Jayabaya ini.
Angkat relawan jadi jubir, Jokowi 'jilat ludah' tak bagi-bagi kursi
Jokowi juga dinilai terlambat mengangkat seorang jubir saat mulai menjabat.
Rekomendasi