Ketua DPD-DPD I (tingkat provinsi) Partai Golkar menyatakan menolak dan mengutuk keberadaan Presidium Penyelamat Partai yang dibentuk para calon ketua umum partai beringin, menyusul kekisruhan rapat pleno DPP dua hari berturut-turut.Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Sulawesi Tenggara Ridwan Bae mengatakan, istilah Presidium tidak dikenal dalam tradisi partai warisan Orde Baru tersebut."Kami DPD-DPD seluruh Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut. Pertama, nomenklatur Presidium tak dikenal dalam tradisi Partai Golkar. Kami mengutuk dan menolak Presidium yang mengatasnamakan Golkar karena bertentangan dengan AD ART Golkar," kata Ridwan Bae dalam konferensi pers di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (26/11).Sikap selanjutnya, lanjut dia, dalam rangka menegakkan harkat martabat Partai Golkar, DPD I di seluruh Indonesia meminta Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) untuk mengambil tindakan tegas dengan sanksi yang tegas terhadap semua pihak yang mengatasnamakan Presidium Penyelamat Partai."Kami meminta ketua umum Golkar yang legal Pak Ical, untuk melaksanakan keputusan Rapim ketujuh di Yogyakarta. Kedudukan Rapim adalah di bawah Munas, yang keputusannya menggelar Munas di Bali November ini," jelasnya.Adapun DPD I seluruh Indonesia yang hadir sebanyak 34 DPD. "Saya menyerahkan sikap ini kepada Pak Sekjen untuk diteruskan kepada ketua umum," tegasnya."Saya menerima sikap DPD-DPD Partai Golkar seluruh Indonesia, saya punya keyakinan ketua umum akan memperhatikan sungguh-sungguh sikap ketua DPD seluruh Indonesia," jawab Sekjen Golkar Idrus Marham.
Sebelumnya, sikap Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang secara sepihak menetapkan pelaksanaan Munas pada 30 November mendatang di Bali dikecam para pengurus DPP. Mereka yang menolak, akhirnya membentuk presidium penyelamat partai dan mengambil alih kepengurusan partai.Rapat pleno DPP Golkar yang ditutup Wakil Ketua Umum Theo L Sambuaga yang membawa surat mandat dari Ical, kembali dibuka oleh Wakil Ketua Umum Agung Laksono. Agung kemudian mempersilakan para peserta rapat untuk mencapai protes mereka. Bahkan ada pengurus yang meminta Ical dibekukan saja sebagai ketua umum. Namun Agung memilih jalan tengah dengan membentuk presidium penyelamat partai."Saya kira semua sepakat, Partai Golkar harus dipertahankan eksistensinya dan kebesarannya. Kita harus membuat perubahan untuk nama baik partai ke depannya. Berdasarkan pembicaraan tadi, saya ambil kesimpulan dibentuk presidium penyelamat partai yang apabila saudara-saudara percaya, presidium ini akan saya pimpin dengan anggota-anggotanya," kata Agung, di DPP Partai Golkar, Selasa (25/11).Agung menyebut nama-nama anggota presidium terdiri dari Priyo Budi Santoso, Hajriyanto Y. Thohari, Zainudin Amali, Agus Gumiwang Kartasasmita, Yorrys Raweyai, Agun Gunandjar Sudarsa, Ibnu Munzir, dan Zainal Bintang.