Emir Moeis: Jokowi mantap, capek 10 tahun jadi oposisi

Emir menilai tidak masalah Jokowi meninggalkan kepemimpinan Jakarta.

Aryo Putranto Saptohutomo
Emir Moeis: Jokowi mantap, capek 10 tahun jadi oposisi
Emir Moeis jalani sidang lanjutan. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Terdakwa kasus dugaan suap pengurusan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Tarahan, Lampung, pada 2004, Izedrik Emir Moeis , menyatakan mendukung pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, sebagai calon presiden Republik Indonesia. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menyatakan sudah lelah menjadi oposisi selama satu dekade."Itu perintah dari ketua umum, saya harus menyukseskan dong. Jokowi mantap. Sudah capek kita sepuluh tahun jadi oposisi. Ujung-ujungnya begini. Saya masuk juga," kata Emir kepada awak media usai membacakan nota pembelaan (pledoi) pribadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (20/3).Menurut Emir, keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mencalonkan Jokowi sebagai RI-1 sudah tepat. Tetapi dia mewanti harus ada pihak yang lebih punya pengalaman buat disandingkan dengan Jokowi ."Tapi harus ada juga yang lebih berpengalaman buat mendampingi. Dan Bu Mega, apapun kalau menghadapi asing, the best soal ini. Yang berani melawan George Bush siapa?" sambung Emir yang mengenakan kemeja merah.Emir menilai tidak masalah Jokowi meninggalkan kepemimpinan Jakarta. Meski begitu, dia yakin kemampuan memimpin mantan Wali Kota Solo itu bisa mengatasi permasalahan satu per satu. Dia juga berharap Megawati dan para politikus senior partai berlambang banteng bermoncong putih itu siap memberi wejangan dan masukan kepada Jokowi .Saat disinggung ihwal figur yang layak mendampingi Jokowi , Emir mengaku tidak tahu. Dia menyerahkannya kepada pimpinan PDIP. Tetapi, dia memberikan beberapa kriteria sosok calon wakil presiden yang pantas mendampingi Jokowi ."Yang bisa menambah kekuatan buat Pak Jokowi tho. Ya menambah kekuatan suara buat pemilihan dan buat kepemimpinan nanti. Jangan buat yang ganggu, susah. (Dari) Militer juga bagus," lanjut mantan Ketua Komisi XI DPR itu.

Rekomendasi