Setelah sebelumnya mengaku disadap, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku mendapat sejumlah teror. Pengamat Politik Charta Politika Arya Fernandez menilai, kabar penyadapan dan teror ini tak lain hanya upaya internal PDIP agar nama mantan Wali Kota Solo tersebut semakin melambung di mata publik."Isunya penyadapan ini kan bermula dari internal ( Tjahjo Kumolo ) yang mengatakan bahwa Jokowi disadap. Saya kira PDI-P ingin mencari momentum. Ada upaya agar Jokowi menjadi pusat pemberitaan," kata Arya kepada merdeka.com, Senin (24/2).Selain itu, lanjut Arya kabar disadapnya Jokowi tak lain karena untuk meredam isu mundurnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang akan menjadi preseden buruk bagi PDIP .Pasalnya isu mundurnya Risma disinyalir akan menurunkan elektoral partai besutan Megawati Soekarnoputri itu. Mundurnya Risma menjadi salah satu kerugian besar bagi partai berlambang banteng moncong putih tersebut."Isu penyadapan ini beriringan konflik munculnya Risma sebagai Wali Kota Surabaya. Ketika muncul isu pengunduran diri Risma itu akan merugikan elektoral PDIP ," ujarnya.Arya menegaskan, meski kedua kader ini memiliki potensi yang tinggi untuk dijual menjelang Pemilu nanti namun potensi Jokowi sebagai salah satu kader yang diusung sebagai capres atau cawapres dinilai internal PDIP lebih tinggi jika dibandingkan Risma."Munculnya Risma pemberitaan Jokowi tergusur. Seolah ingin menjadikan Jokowi sebagai pusat pemberitaan," tandasnya.
Mengaku disadap dan diteror, Jokowi hanya pencitraan?
Kabar disadapnya Jokowi dinilai untuk meredam isu mundurnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang merugikan PDIP.
Rekomendasi