Rencana pengurus daerah untuk menjadikan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum partai mendapat penolakan. Sikap tidak setuju bukan datang dari luar, tapi dari internal Partai Demokrat sendiri.Bukan tanpa alasan mereka menolak. Sebagian besar politikus Partai Demokrat yang menolak karena posisi SBY sebagai seorang presiden.Para politikus ini khawatir, jika SBY menjadi ketua umum akan mengganggu kinerja sebagai seorang Kepala Pemerintahan dan Negara. Tidak itu saja, dikhawatirkan akan mendapat penolakan dari masyarakat luas.Dari sisi politik, rencana ini juga bisa dimainkan lawan politik jika SBY menjadi ketua umum. Apalagi sudah memasuki tahun politik. Berikut para politikus Partai Demokrat yang bersuara lantang menolak majunya SBY:
Advertisement
Politikus senior Partai Demokrat Ignatius Mulyono mengaku tidak sepakat dengan wacana memajukan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum partai. Dia beralasan, SBY saat ini masih menjadi presiden."Tidak ada salahnya SBY sebagai ketum. Tapikan SBY presiden, jangan sampai kepercayaan publik terganggu oleh partai. Partai sendiri kan masih banyak masalah-masalah di partai," kata Ignatius di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (26/3).Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR ini mengungkapkan, untuk melakukan pembenahan partai, tidak perlu SBY menjadi ketua umum. Sebab, kata dia, di internal partai pun banyak orang hebat."Kalau kemampuan SBY kita sangat percaya, saya yakin bisa selamatkan, hanya itu kita memikirkan tuntutan-tuntutan masyarakat. Karena pemerintahan kita membutuhkan perbaikan yang luar biasa juga," tandasnya.
Advertisement
Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana juga tidak sependapat. "Saya kira, itu sangat sangat wajar. Mereka mengkhawatirkan, kalau yang lain (jadi Ketum) nanti pasti ada pro-kontra. Tapi dalam kewajaran berdemokrasi ini, ada juga azas kepatutan yah. Apakah SBY mau menerima Ketua Umumnya? Sudah itu Sekjennya mas Ibas. Apa kata dunia, apa kata mertua kalau begitu?" kata Sutan saat dihubungi, Rabu (27/3).Ketua Komisi VII DPR ini pun menjamin, rakyat Indonesia tidak akan terima jika presidennya menjadi ketua umum partai yang secara tidak langsung akan berdampak pada proses politik jelang Pemilu 2014."Dan kalau pun ada kalau saya tanya kira-kira kalau Pak SBY jadi Ketua Umum Partai Demokrat, sebagai rakyat Indonesia, Anda terima enggak? Saya yakin, dalam hati Anda menolak. Masa harus dia? Masa enggak ada yang lain? Saya pun demikian," tegas dia.Namun demikian, dia pun tidak serta merta menyalahkan para kader yang ingin SBY jadi ketua umum. Jadi atau tidaknya SBY menjadi ketua umum, lanjut dia, semua itu akan terjadi dalam Kongres Luar Biasa (KLB) akhir Maret mendatang.
Advertisement
Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Cilacap Tri Dianto ini yang paling bersuara lantang. Dia berharap agar Presiden SBY lebih baik fokus mengurus program-program pro rakyat yang masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat.Oleh sebab itu, dia meminta agar SBY percaya sepenuhnya kepada dirinya untuk melakukan pembenahan di Partai Demokrat. Sementara, SBY fokus mengurus rakyat."Urusan partai serahkan saja sama saya, saya siap untuk fokus dan bekerja untuk partai Demokrat dan menaikkan elektabilitas serta memenangkan Partai Demokrat di 2014 dan semua itu harus aku lakukan," tambahnya.
Advertisement
Politikus cantik ini sebenarnya mendukung SBY menjadi ketua umum partai. Namun karena masih menjadi presiden, ia berharap SBY tak maju karena masih banyak tugas lain sebagai kepala negara dan pemerintahan.Karena itu, pilihan kedua ia memilih Ani Yudhoyono. "Awalnya harapan khususnya dari kader perempuan kalau Pak SBY tidak bisa, kepada Ibu negara (Ani Yudhoyono). Beliau juga berpengalaman dalam membangun partai. Antara Ibu Ani dan SBY cukup layak," kata Ingrid, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (26/3).Jika Ani bisa menjadi ketua umum, hal itu akan menjadi pemersatu di internal partai berlambang bintang Mercy itu. Menurut Ingrid, dalam kondisi saat ini, kader Demokrat membutuhkan kader panutan."Karena kan kondisinya sedang transisi, jadi kita butuh figur panutan untuk seluruh kader Partai Demokrat," tandasnya.