Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi tegas untuk mempercepat pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking 18 proyek hilirisasi. Target ambisius ini diharapkan dapat terealisasi paling lambat pada Maret 2026, menandai komitmen serius pemerintah dalam mendorong industrialisasi dan nilai tambah sumber daya alam.
Permintaan percepatan ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam retret Kabinet Merah Putih yang berlangsung di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (6/1). Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan program-program prioritas dapat berjalan sesuai jadwal dan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa dari total 18 proyek, enam di antaranya telah diputuskan untuk memulai groundbreaking pada Januari 2026. Presiden meminta sisa proyek lainnya untuk segera dipercepat, sehingga seluruh proyek dapat dilaksanakan paling lambat Februari atau Maret 2026.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah menargetkan 18 proyek hilirisasi yang sedang dalam tahap kajian oleh Danantara Indonesia untuk segera memasuki fase konstruksi. Proyek-proyek ini diperkirakan memiliki nilai investasi yang sangat besar, mencapai Rp600 triliun, dan diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Realisasi investasi ini akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya penguatan kerja sama lintas kementerian dan lembaga guna mendukung pencapaian program-program besar pada tahun 2026. Orientasi kerja harus sepenuhnya demi kepentingan bangsa dan negara, serta masyarakat, dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan ego sektoral.
Apabila muncul permasalahan dalam pelaksanaan program, seluruh pihak diminta untuk segera mencari titik temu agar program tetap dapat berjalan dengan baik. Presiden juga menegaskan agar seluruh jajaran bekerja cepat, cerdas, tidak normatif, serta mampu berpikir 'out of the box' untuk menemukan terobosan demi percepatan pencapaian program nasional.
Advertisement
Advertisement
Salah satu dari 18 proyek hilirisasi yang menjadi fokus utama adalah proyek Waste-to-Energy (PSEL) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik. Proyek PSEL ini akan dibangun di 34 titik yang tersebar di 34 kabupaten/kota, khususnya di daerah dengan volume timbunan sampah harian mencapai rata-rata 1.000 ton per hari.
Pembangunan PSEL diharapkan mampu mengurangi beban lingkungan secara signifikan sekaligus menekan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah. Proses pengolahan sampah yang tidak dapat didaur ulang melalui teknologi ini akan menghasilkan energi, seperti panas, listrik, atau bahan bakar alternatif, mendukung kemandirian energi nasional dan mengurangi volume sampah terbuka.
Selain PSEL, pemerintah juga akan segera melakukan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). DME merupakan bagian dari hilirisasi batu bara, di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif yang diharapkan mampu mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap gas LPG.
Advertisement
Prasetyo Hadi juga menyebutkan bahwa selain proyek energi, ada beberapa program lain yang berkenaan dengan sektor pertanian. Program-program ini juga akan menjadi bagian dari percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan menciptakan lapangan kerja.
Sumber: AntaraNews