Prabowo-Sandi: Survei Denny JA Buat Lucu-lucuan, Kita Butuh Hiburan

Rabu, 6 Maret 2019 17:44 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Prabowo-Sandi: Survei Denny JA Buat Lucu-lucuan, Kita Butuh Hiburan Dahnil Anzar bersama Prabowo dan Sandiaga bergaya kasual. ©2018 Merdeka.com/ instagram @dahnil_anzar_simanjuntak

Merdeka.com - Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul sebesar 58,7 persen dibanding Prabowo-Sandi 30,9 persen dalam survei terbaru LSI Denny JA. Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut survei Denny JA adalah hiburan.

"Kami terus terang ya kami gak pernah menanggapi serius survei Denny JA. Karena survei itu bagi kami, terus terang kami ragu dengan kredibilitasnya, kita ragu dengan independensinya," kata Dahnil di media center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I No 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (6/3).

"Jadi sehingga apapun survei Denny JA kami sebut lucu-lucuan aja. Kalau dalam politik kita butuh hiburan, salah satu hiburan yang sering kamu nikmati itu adalah survei Denny JA," sambungnya.

BPN tak peduli dengan berapapun hasil angka survei dari LSI Denny JA kepada Prabowo-Sandi. Dahnil memaklumi tugas survei tersebut.

"Mau bilang Pak Jokowi 100 persen enggak apa-apa silakan saja. 1000 Persen saja gapapa. LSI Denny JA silakan lakukan tugasnya dengan baik dan benar," ucapnya.

Selain itu, Dahnil geram dengan framing survei yang dibuat LSI Denny JA. Sebab, dalam survei tersebut pemilih Prabowo-Sandiaga lebih banyak setuju ketimbang pemilih Jokowi-Ma'ruf soal keinginan Indonesia harus seperti dunia Timur Tengah (Arab).

"Anda lihat cara mereka melakukan segmentasi, pembelahan dan framing yang dilakukan, framing yang dilakukan adalah framing rasial dan itu berbahaya.
Denny JA ini melakukan survei untuk mempersatukan Indonesia atau memecah belah Indonesia? Itu berbahaya lho," ujar Dahnil.

"Kalau anda perhatikan selama kampanye Pak Prabowo dan Bang Sandi tak pernah gunakan diksi rasial, yang selalu digunakan adalah diksi ekonomi dan pembangunan," sambungnya.

Dahnil memandang, survei-survei Denny JA punya kecenderungan melabelling dan framing berbahaya yang mengganggu persatuan Indonesia. Menurutnya, survei Denny JA berbahaya bagi persatuan di tengah pemilu yang berusaha menjahit persatuan dalam perbedaan politik dan pilihan politik. Dia berharap Denny JA tidak memecah belah dengan cara framing survei terkait.

"Itu kan tuduhan. Kalau mereka berusaha mensegmentasikan masyarakat kita kotak-kotakan masyarakat sambil nunggu hasil yang sana radikal yang sini enggak, itu berbahaya," ucapnya.

Sebelumnya, LSI menyebut, Jokowi-Ma'ruf Amin masih unggul atas Prabowo Subianto dan Sandiaga. Petahana mendapatkan 58,7 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga memiliki suara 30,9 persen.

LSI Denny JA juga melakukan penelitian mengenai pergeseran sentimen agama setelah 6 bulan masa kampanye calon presiden dan wakil presiden. Hasilnya, ada 3,5 persen pemilih muslim yang menyatakan Indonesia harus seperti dunia Timur Tengah (Arab).

Penelitian selanjutnya juga menunjukkan bahwa mereka memilih pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Yang ingin Indonesia khas Pancasila, lebih banyak pendukung Jokowi- Ma'ruf. Yang ingin Indonesia seperti Timur Tengah, adalah pemilih Prabowo-Sandiaga," ujar Ardian Sopa.

Adapun, jumlah pemilih muslim yang menjadi responden survei LSI sebanyak 87,8 persen. Saat diminta menjawab atas tiga pilihan orientasi politik yang diberikan, sebanyak 84,7 persen menyatakan Indonesia harus khas dengan Pancasila.

Kemudian, 3,5 persen menyatakan Indonesia harus seperti dunia Timur Tengah (Arab). Hanya 1,1 persen yang memilih Indonesia harus seperti dunia Barat.

Lebih lanjut saat ditanya mengenai orientasi politik terhadap pasangan yang dipilih, responden yang menyatakan Indonesia harus seperti dunia Timur Tengah (Arab) lalu memilih pasangan Prabowo Sandiaga yaitu sebanyak 54,1 persen. Sementara, yang memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf sebanyak 45,9 persen.

Survei elektabilitas capres-cawapres tersebut menggunakan simulasi surat suara. Besaran responden 1.200 yang diwawancarai tatap muka dalam rentang waktu 18-25 Februari 2019. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini