Peneliti SMRC Nilai Prabowo Ingin Lepaskan Stigma Kekuatan Orde Baru

Jumat, 8 Februari 2019 04:31 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Peneliti SMRC Nilai Prabowo Ingin Lepaskan Stigma Kekuatan Orde Baru Prabowo Hadiri Peringatan HUT ke-20 KSPI. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Peneliti SMRC Djayadi Hanan menganalisa makna di balik pernyataan capres Prabowo Subianto tentang arah negara yang keliru sejak zaman orde baru. Menurutnya, Prabowo ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan representasi dari kekuatan politik lama.

"Saya kira itu cara Pak Prabowo untuk menunjukkan bahwa dia bukanlah representasi kekuatan lama. Kan secara visual dan formal paling tidak agak sulit untuk mengatakan bahwa Pak Prabowo tidak didukung oleh kekuatan-kekuatan lama, kekuatan orde baru terutama," kata Djayadi di Populi Center, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (7/2).

Menurutnya, Prabowo sulit melunturkan stigma orde baru kepada publik. "Karena keluarga Soeharto hampir semuanya ada di situ, Prabowo sendiri masih tetap bangga menjadi bagian dari keluarga Cendana, dan seterusnya. Jadi agak susah," ucapnya.

Direktur Eksekutif SMRC ini menuturkan, saat ini banyak orang-orang yang takut dan tak ingin kekuatan politik orde baru kembali muncul ke permukaan.

Apalagi, menurutnya, kekuatan orde baru untuk memenangkan kontes politik sudah tidak bisa diandalkan. Hal ini, kata Djayadi, terbukti dari partai-partai pasca reformasi yang menggunakan kekuatan orde baru tak cukup kuat untuk memenangkan seseorang menjadi presiden.

"Jadi ingin memberi jarak bahwa dia (Prabowo) orang yang berbeda dibanding kekuatan lama itu. Itu citra yang ingin dibangun," terang Djayadi.

Dirinya juga tak yakin jika arah bangsa keliru. Pasalnya hasil survei yang keluar sejak lama, masyarakat tak setuju bila arah bangsa salah.

"Survei yang kita lakukan sejak tahun 2003 lalu dari LSI, SMRC digabung survei-survei 2003 sampai sekarang itu masyarakat kita berjalan ke arah yang benar," terangnya.

"Misalnya pada 2018 lalu ketika ditanya apakah anda menganggap negara kita berjalan ke arah yang salah atau ke arah yang benar 80 persen mengatakan kita berada di arah yang benar," sambungnya.

Djayadi melanjutkan, strategi yang berbeda dengan pandangan masyarakat tidak ampuh untuk menarik simpati.

"Kalau ada seorang calon yang jualan bahwa negara kita arahnya salah lalu ketemu dengan masyarakat yang menganggap 'enggak arah negara kita bener kok, kamu aja yang salah' misalnya, kan dia tidak akan mendapatkan simpati yang cukup. Jadi tidak mudah untuk menggunakan strategi itu," tutupnya.

Sebelumnya, Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto kesal dengan elit yang mengelola negara dengan keliru. Prabowo pun sudah mengamati arah perkembangan bangsa sejak masa orde baru. Menurutnya, pembangunan Indonesia hingga kini menuju arah yang salah.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutannya dalam acara HUT Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Mahaka Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/2).

"Saudara-saudara sekalian dari awal, dari sekian belas tahun, sekian puluh tahun, sebetulnya dari saya masih di dalam orde baru, saya sudah melihat arah perkembangan, arah pembangunan Indonesia, arahnya sebetulnya menuju arah yang keliru," kata Prabowo. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini