Panas Dingin Demokrat dalam Koalisi Prabowo-Sandi

Rabu, 8 Mei 2019 03:45 Reporter : Syifa Hanifah
Panas Dingin Demokrat dalam Koalisi Prabowo-Sandi Pertemuan Prabowo dan SBY. ©Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Posisi Partai Demokrat dalam Koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tengah menjadi sorotan. Hubungannya jadi panas dingin akhir-akhir ini. Apalagi usai Pemilu 2019.

Penyebabnya karena ada isu-isu liar yang berkembang soal Demokrat akan meninggalkan koalisi Prabowo-Sandi. Isu itu makin santer setelah Pemilu 2019. Hal ini yang membuat koalisi Prabowo panas dan banyak juga yang meragukan komitmen Demokrat untuk menangkan Prabowo.

Sebelum Pemilu 2019, hubungan Demokrat dalam koalisi Prabowo-Sandi memang sudah panas dingin. Berikut momen-momen perjalanan Demokrat masuk dalam koalisi Prabowo-Sandi:

1 dari 8 halaman

Beredar Kabar Awalnya Demokrat Duetkan Prabowo-AHY

Masih ingat lobi-lobi politik jelang pendaftaran capres-cawapres. Saat itu berembus kabar Partai Demokrat tengah melobi Prabowo Subianto agar menggandeng Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres.

Kabar ngototnya Demokrat menyodorkan nama AHY sempat membuat Prabowo bimbang. Sebab beberapa partai koalisi lain seperti PKS dan PAN juga menyodorkan nama cawapres. Karena isu berkembang dan menjadi liar, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY langsung mengklarifikasi.

Bahkan SBY langsung melakukan pertemuan tertutup dengan Prabowo didampingi AHY pada 4 Juli 2018. SBY menegaskan, posisi cawapres untuk Demokrat bukan harga mati.

"Saya keluarkan statement cawapres bukan harga mati, yang penting pasangan capres dan cawapres baik untuk rakyat dan bisa melakukan perubahan ke arah lebih baik," kata SBY waktu itu.

Prabowo juga menegaskan jika SBY tidak meminta jatah cawapres untuk Demokrat. "Saya katakan secara tegas Pak SBY tidak meminta cawapres sebagai harga mati. Beliau tidak sama sekali menyampaikan itu," tegas Prabowo.

Setelah Prabowo gencar melakukan komunikasi politik dengan Demokrat, akhirnya Demokrat sepakat mendukung dan bergabung dengan Prabowo Subianto. "Majelis tinggi partai memutuskan melakukan penjajakan koalisi dengan Bapak Prabowo Subianto," kata Anggota Majelis Tinggi Demokrat, Ee Mangindaan.

2 dari 8 halaman

Istilah Jenderal Kardus

Hubungan Demokrat dengan Prabowo pernah sempat panas setelah politikus Demokrat Andi Arief melontarkan istilah 'Jenderal Kardus' kala itu. Isu itu jadi ramai dan ditanggapi serius beberapa elite Partai Gerindra.

Melalui akun twitter pribadinya, Andi Arief melontarkan cuitan keras. "Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaskan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus." tulis Andi Arief melalui akun twitternya @AndiArief__

Isu Jenderal Kardus akhirnya mereda. Demokrat akhirnya bergabung dalam koalisi Prabowo-Sandi. Bahkan saat pendaftaran capres-cawapres, Demokrat hadir dan diwakili oleh Komandan Satuan Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) dan Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono ( Ibas) ikut mendampingi pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat mendaftar sebagai capres- cawapres ke Komisi Pemilihan Umum ( KPU) pada 10 Agustus 2018.

3 dari 8 halaman

Diisukan Demokrat Jarang Hadir dalam Rapat Koalisi

Setelah memutuskan bergabung dalam koalisi Prabowo, hubungan Demokrat dengan partai koalisi Prabowo masih jadi sorotan. Muncul isu Demokrat setengah hati. Bahkan meragukan komitmen Demokrat untuk mendukung Prabowo.

Dalam rapat-rapat partai koalisi, Ketum Partai Demokrat SBY tidak hadir. Saat itu pertemuan berlangsung di kediaman Prabowo, Jakarta Selatan 7 September 2018. Prabowo memberikan alasan kenapa SBY tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

"Kebetulan mereka (Demokrat) ada rapat juga yang waktunya tepat sama kayak kita," kata Prabowo menjelaskan ketidakhadiran SBY.

4 dari 8 halaman

SBY Usulkan Prabowo Pidato Kebangsaan

Beberapa kesempatan Demokrat menunjukkan keharmonisan dengan Prabowo. Ini ditunjukkan langsung oleh SBY yang mengusulkan Prabowo Subianto agar menggelar pidato kebangsaan yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan, 14 Januari 2019 lalu.

"Betul (SBY) beliau memberikan ide-ide dan strategi yang besar, termasuk masalah itu (pidato kebangsaan)," kata Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Priyo Budi Santoso.

Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) Salim Segaf Al-Jufry dan Presiden PKS Mohammad Sohibul Iman dan tokoh pendukung Prabowo hadir langsung untuk mendengarkan pidato kebangsaan Prabowo.

"Yang saya hormati, senior saya, mentor saya, presiden ke-6 RI, Jenderal TNI Susilo Bambang Yudhoyono," kata Prabowo membuka pidatonya disambut tepuk tangan kadernya.

5 dari 8 halaman

AHY Hadiri Kampanye Akbar Prabowo di Jabar

Komitmen Demokrat dalam memenangkan Prabowo kembali diragukan saat masa kampanye. Sebab Ketum Demokrat SBY lebih fokus Pileg dibandingkan Pilpres untuk memenangkan Prabowo.

Namun hal itu terbantahkan. SBY menjanjikan akan turun gunung mendekati hari pencoblosan yang dilaksanakan pada 17 April 2019 lalu. Namun karena harus menemani sang istri Ani Yudhoyono yang sedang menjalankan perawatan di Singapura, SBY batal melakukan kampanye.

Sebagai penggantinya, Demokrat mengirim AHY untuk fokus kampanye menangkan Prabowo. AHY hadir dalam kampanye akbar Prabowo di Bandung Jawa Barat, pada 28 Maret 2019.

"Saya AHY, mewakili Partai Demokrat yang jadi koalisi pengusung Prabowo-Sandi di pilpres ini. Kami dukung penuh Prabowo-Sandi untuk jadi Presiden di lima tahun mendatang," kata AHY di hadapan para pendukung di Lapangan Sidolig, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/3).

6 dari 8 halaman

Sinyal Demokrat Tinggalkan Prabowo

Usai Pemilu 2019, peta politik dalam koalisi Prabowo-Sandi ada sinyal-sinyal perubahan. Isu Demokrat akan meninggalkan koalisi Prabowo Subianto- Sandiaga Uno kembali santer terdengar setelah adanya pertemuan Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Presiden Jokowi pada Kamis (2/5) lalu di Istana Kepresidenan.

Padahal, menurut AHY, pertemuan dengan Jokowi merupakan silaturahmi. Agus mengaku membahas sejumlah hal dengan Jokowi salah satunya semangat mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

7 dari 8 halaman

Istilah Setan Gundul

Pekan ini heboh lagi. Hubungan Demokrat dengan partai koalisi Prabowo-Sandiaga khususnya dengan Gerindra menghangat. Penyebabnya setelah politikus Demokrat Andi Arief menyebutkan istilah 'setan gundul' di tengah koalisi Prabowo.

"Jika Pak Prabowo lebih memilih mensubordinasikan koalisi dengan kelompok 'setan gundul', Partai Demokrat akan memilih jalan sendiri yang tidak khianati rakyat," kicau Andi dalam akun twitternya @AndiArief__, Senin (6/5).

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono menilai Demokrat hanya setengah hati berada di koalisi. Padahal sudah banyak dapat keuntungan sejak bergabung ke koalisi Prabowo. "Yang pasti kita koalisi sama PKS, PAN, Berkarya dan setengah hati dengan Partai Demokrat, yang cuma nanggok untung saja," jelas Arief Poyuono.

8 dari 8 halaman

Demokrat Tidak Akan Tinggalkan Prabowo

Isu Demokrat akan berpaling dari koalisi Prabowo-Sandiaga dibantah oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachland Nashidik. Ia menegaskan partainya masih menjadi bagian dari koalisi Prabowo.

"Partai Demokrat adalah bagian dari koalisi Prabowo-Sandi. Kami dikenal sebagai anggota koalisi yang kritis, bukan oportunis. Kami tidak meninggalkan kawan yang sedang mengalami kesulitan," kata Rachland. [has]

Baca juga:
Soal PAN dan Demokrat Bergabung, Koalisi Jokowi Sebut baru Silaturahmi
Caleg Petahana Nurhayati Ali Assegaf dan Totok Daryanto Gagal ke Senayan
Langkah Demokrat Merapat ke Jokowi Terganjal 'Luka Lama' Mega dan SBY?
Gerindra Tak Paksa Demokrat Tetap Dalam Koalisi Prabowo
Jika Jokowi Terpilih, Ferdinand Sebut Demokrat akan Akhiri Koalisi dengan Prabowo

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini