Meski bergaji kecil, kesetiaan abdi dalem tiada henti
Merdeka.com - Kesetiaan dan pengabdian abdi dalem di Keraton Surakarta, tak perlu diragukan lagi. Meski hanya bergaji sangat kecil, atau sangat jauh dari kebutuhan, namun pengabdian dan kesetiaan mereka tak perlu dilakukan. Apapun akan mereka lakukan demi pengabdian kepada keraton ataupun sang raja.
"Meski saya baru 5 tahun mengabdi, saya rela melakukan apapun, termasuk meninggalkan pekerjaan. Saya yakin dengan mengabdi di keraton, saya akan mendapatkan berkah," ujar Heri Sulistyo (35), pawang Kebo Bule (kerbau keturunan Kyai Slamet) di Keraton Surakarta.
Heri mengemukakan, gaji sebagai pawang kebo bule hanya Rp 55 ribu per bulan. Uang tersebut tentu sangat jauh dari cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya yang tinggal di kampung Gurawan. Untuk memenuhi kebutuhannya, Heri harus bekerja sampingan sebagai tukang parkir. Celakanya gaji sekecil itupun, tak pernah tepat dibagikan.
"Gaji saya sudah 15 bulan belum dibayar. Saya terpaksa nyambi (kerja sambilan) sebagai juru parkir. Tapi yang saya utamakan tetap jadi pawan kebo bule. Karena di sini saya mencari berkah," katanya.
Hal yang sama juga dinyatakan beberapa abdi dalem lainnya. Erwin Rahmad, salah satu prajurit keraton mengaku bangga mengabdi di keraton. Pria asal Polokarto, Sukoharjo tersebut lebih memilih bekerja di keraton meski bergaji kecil.
"Sudah setahun lebih saya belum terima gaji. Gaji saya cuma Rp 50 ribu. Tapi nggak apa, di sini cari berkah," katanya.
Menjadi abdi dalem keraton bisa jadi adalah bentuk pengabdian yang sebenarnya. Mereka bekerja tanpa pernah peduli dengan besarnya gaji yang akan diterima.
Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Kanjeng Pangeran (KP) Winarnakusumo mengatakan, abdi dalem adalah orang-orang yang mengabdikan diri menjadi pegawai keraton. Mereka mengabdikan dirinya kepada raja yang tugasnya menjaga, mengurus, dan merawat keraton, meliputi kesenian, budaya, dan rumah tangga.
"Abdi dalem di keraton itu ada beberapa golongan. Yang pertama namanya abdi dalem garap, yaitu abdi dalem yang bekerja dan mendapatkan gaji dari keraton," ucapnya.
Selanjutnya yang kedua, dinamakan abdi dalem anon-anon atau abdi dalem ganjaran. Menurut Winarna, abdi dalem ini masih termasuk kerabat keraton. Mereka mendapat pangkat karena berjasa pada keraton.
Perbedaan kedua abdi dalem ini, kata Winanrna, abdi dalem ganjaran tak harus hadir atau bekerja di keraton. Sedangkan abdi dalem garap harus hadir dan bekerja di keraton serta mendapatkan gaji.
Mengenai gaji para abdi dalem, Winarna menerangkan gaji abdi dalem diberikan tiga bulan sekali. Tak seperti gaji karyawan pada umumnya, yang dibayarkan sebulan sekali.
"Mereka bekerja ke keraton untuk nyuwito (mengabdi). Jadi kalau gajinya sangat kecil, itu sudah dimaklumi, karena kami tidak ada anggaran," jelasnya.
Lebih lanjut Winarna menjelaskan, dari sisi kepangkatan, abdi dalem ini juga dibedakan menjadi dua. Kartiprojo adalah sebutan bagi pangkat rendah mulai Lurah hingga Kanjeng Raden Aryo Tumenunggug (KRAT). Besarnya gaji kelompok kepangkatan ini di bawah Rp 100 ribu per bulan. Sedangkan untuk pangkat Kanjeng Raden Aryo (KRA) sampai pangkat tertinggi, Kanjeng Gusti (KG), disebut sentono (keluarga dan kerabat keratin) dengan gaji berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu per bulan sesuai masa pengabdian. (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya