Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Maruarar Sirait: Milenial itu akan objektif di Pilpres 2019

Maruarar Sirait: Milenial itu akan objektif di Pilpres 2019 Diskusi Menakar Peran dan Pengaruh Generasi Milenial pada Pilpres 2019. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Dari sekitar 186 juta pemilih di 2019, sekitar 100 juta diantaranya merupakan pemilih muda atau sering disebut pemilih milenial. Untuk menggapai suara milenial dibutuhkan keteladanan calon presiden dan wakil presiden yang maju dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Maruarar Sirait menilai, generasi milenial Indonesia saat ini sudah cukup cerdas dan pintar. Milenial ini tidak bisa diyakinkan dengan kepentingan, figure, agenda, pendekatan dan lainnya.

"Apakah bisa dikatakan milenial itu bisa didekati dengan figure enggak, program juga enggak. Itu ada bagian-bagiannya. Kalau kita pertajam yang orientasi ideologi atau nasionalisme misalnya belum tentu juga," katanya di Jakarta, Rabu (3/10).

Maruarar mencontohkan, dua pasangan calon yang maju di Pilpres 2019, pasangan dengan nomor urut 01 yang akan didorong menggarap milenial adalah Jokowi. Sementara pasangan nomor urut 02 yang disorong menggarap suara milenial adalah Sandiaga Uno.

"Saya kira dari dua pasangan kontestan yang dominan menggaet milenial ini adalah Jokowi dan Sandi. Sandi dan Jokowi pendekatannya terlihat dari cara pakaiannya saja sudah merepensentasikan milenial. Hal-hal yang bersifat fisik seperti main bola, main basket dan lainnya merupakan suatu upaya menggaet milenial," ujarnya.

Dalam agenda atau program, dikatakan Ara sapaan Maruarar, Jokowi mendorong UU Kewirausahaan yang saat ini dibahas di DPR. UU itu nantinya akan mendorong kaum milenial untuk mulai berwirausaha dalam mengembangkan masa depannya.

Sementara Sandiaga agendanya bagaimana agar membersarkan program OK Oce. "Itu cara mereka menggaet milenial. Konsepnya mana yang penting milenial yang menilai," jelasnya.

Ketua Umum Taruna Merah Putih itu mengatakan, milenial secara objektif itu bisa berubah dan sangat tergantung figurnya, kebijakannya, dan posisi orang yang berkompetisi.

"Milenial itu akan sangat objektif. Pendekatan itu apa yang bisa dirasakan, dia sangat percaya pada keteladanan," ungkapnya.

Ara mencontohkan, capres atau cawapres yang tidak konsisten dengan omongan dan perbuatan, akan susah mendapatkan suara dari milenial. Karena milenial itu akan sangat kritis terhadap sesuatu yang dianggap tidak konsisten.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP