Maju Caketum, Agun Gunandjar Mau Buat Golkar Modern
Merdeka.com - Politisi Senior Partai Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa, memutuskan maju sebagai calon ketua umum Partai Golkar. Salah satunya alasannya, ingin menjadikan Golkar sebagai partai tertua di Indonesia tetap modern.
"Saya bertanya apakah Golkar sudah jadi partai modern? Saya bilang belum makanya saya maju jadi calon Ketua umum untuk menjadikan Partai Golkar partai modern, menjadi partai pemenang di 2024," kata Agun di Kantor PARA Syndicate, Jakata Selatan, Jum'at (29/11).
Agun ingin seluruh kader Golkar dapat introspeksi diri dari hasil raihan suara pada pemilu sebelumnya. Hal ini dikarenakan, pada Pemilu terakhir khususnya di bawah kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto, suara Golkar semakin menurun.
"Coba dicek di kabupaten-kabupaten Golkar suaranya turun semua. Ada yang kursinya cuma 5, 6 padahal semuanya 45 (kursi). Urutan keenam, urutan ketujuh itu di Kabupaten. Kok masih bangga aja, merasa hebat," ungkapnya.
"Saya ngomong gini bukan soal membangun pesimisme tapi saya ingin membangun kesadaran supaya kita tetap optimis," sambungnya.
Di awal Desember, Agun memastikan segera menyerahkan formulir pendaftaran caketum Golkar.
"Insya Allah saya tanggal 2 Desember 2019 menyerahkan formulir," sebutnya.
Cium Aroma Perpecahan
Agun menambahkan, perebutan kursi ketum Golkar pada munas mendatang bisa berbuntut perpecahan di internal jika caketum petahana, Airlangga Hartarto menggunakan cara-cara tidak demokratis.
"Kalau mekanismenya tidak demokratis, jangan salahkan akan banyak kader Partai Golkar pada yang akhirnya eksodus. Saya yakin akan terjadi besar-besaran. Kalau dipaksakan dengan cara seperti itu," kata Agun memprediksi.
Salah satu bentuk syarat tidak demokratis yang dia maksud, adanya syarat dukungan 30 persen dari anggota partai yang seharusnya dimulai saat munas dibuka.
"Dukungan 30 persen yang diserahkan di panitia Munas, saya wajib pertanyakan. Harusnya dukungan itu dilakukan tidak di luar gedung, tapi di forum Munas. Dengan cara apa? Dokumen itu masih kosong. Ada nama A, B, C, D, tinggal dia melingkari. Yang angkanya capai 30 persen itu yang resmi masuk dalam tahapan berikutnya," jelasnya.
Agun menegaskan, mekanisme 30 persen di awal membuat para pemilik suara tidak terbuka dan takut memberikan dukungannya kepada calon di luar Airlangga secara terbuka. Karena itu, Agun meminta kebijakan itu dihapus dan memberikan hak kepada pemilik suara untuk memilih dan dipilih secara adil.
"Hari ini sudah terjadi. Berapa orang yang sudah di Plt, berapa orang yang sudah dicopot, anda bisa cek. Banyak di berbagai daerah itu terjadi. Hal itu terjadi seperti ini menurut hemat saya harus dilawan. Termasuk misalkan proses pencalonan," tegasnya.
Dia juga mengimbau para menteri Golkar di Kabinet Indonesia Maju tidak mencampuri munas Golkar dengan melakukan intervensi. Sebab, dia meyakini Presiden Jokowi melepaskan pemilihan ketua umum Golkar secara jujur dan adil.
"Kalau para menteri yang terlibat, terkait hal itu turun gunung ke bawah, justru harusnya mencegah kecurangan. Hei, parpol jangan sekali-sekali mau menang (dengan cara tak demokratis, red). Menang harus dengan cara-cara demokratis seperti membuat mekanisme pemilihan yang selurus mungkin," tutupnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya