Kubu Jokowi Ingatkan Prabowo Masa Sulit Media di Orde Baru

Rabu, 5 Desember 2018 16:36 Reporter : Yunita Amalia
Kubu Jokowi Ingatkan Prabowo Masa Sulit Media di Orde Baru Prabowo Subianto. ©Liputan6.com/Ady Anugrahadi

Merdeka.com - Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto kesal dengan media masa atas pemberitaan aksi reuni 212 di Monumen Nasional (Monas), Minggu 2 Desember. Sikap Prabowo dikritik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf.

Wakil Ketua TKN, Abdul Kadir Karding mengingatkan Prabowo agar tidak menampilkan sikap anti pemberitaan. Ia mengungkit masa sulit media pada era orde baru di masa kepemimpinan Soeharto.

Di saat orba, imbuh Karding, terjadi pengekangan kebebasan pers dalam menyampaikan peristiwa ke publik. Sementara saat ini keleluasaan terbuka dengan landasan kaidah jurnalis.

"Hari ini sangat demokratis orang meliput tanpa tekanan orang memberitakan tanpa bredel orang diberikan independensi sepanjang kaedah-kaedah jurnalisme. Jadi menurut saya ini sesuatu yang sangat disayangkan karena seakan-akan pers ini satu lembaga yang merusak demokrasi. Menurut saya ini tidak betul," ujar Karding di posko TKN, Jalan Cemara, Jakarta Pusat, Rabu (5/12).

"Zaman Soeharto itu sangat beda dengan hari ini," tandasnya.

Pernyataan Karding tersebut menanggapi pernyataan Prabowo Subianto saat menghadiri acara perayaan hari disabilitas. Ia menyindir media yang enggan meliput acara reuni 212.

Bagi Prabowo reuni 212 merupakan momen bersejarah di mana jutaan manusia berkumpul bersama tanpa dibiayai siapapun.

"Kita dipandang istilahnya sebelah mata, dipandang dengan sebelah mata ya. Kita enggak dianggap karena dibilang enggak punya duit, mereka sudah tutup semua, buktinya hampir semua media tidak mau meliput 11 juta orang kumpul yang belum pernah terjadi di dunia," kata Prabowo.

Prabowo sangat menyesalkan media tidak menangkap momen yang semestinya diberitakan. "Saya kira belum pernah terjadi, tapi hebatnya media-media yang kondang, media-media dengan nama besar, media-media yang mengatakan dirinya objektif, bertanggung jawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka bagian dari usaha manipulasi demokrasi," tutur Prabowo.

"Sudah saatnya kita bicara apa adanya, kita bicara yang benar-benar dan yang salah-salah. Mereka mengatakan yang sebelas juta itu hanya lima belas ribu. Bahkan ada yang kalau lebih dari seribu dia nantang. Ya terserah deh apa yang dia minta," ujarnya. [fik]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini