Kemendagri Apresiasi Keramahan Aceh di Tengah Bencana: Tradisi Peumulia Jamee Membawa Semangat

Kementerian Dalam Negeri menyoroti tradisi ‘peumulia jamee’ yang ditunjukkan masyarakat Aceh di tengah bencana, memberikan apresiasi atas Keramahan Aceh Bencana yang menginspirasi para relawan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemendagri Apresiasi Keramahan Aceh di Tengah Bencana: Tradisi Peumulia Jamee Membawa Semangat
Kementerian Dalam Negeri menyoroti tradisi ‘peumulia jamee’ yang ditunjukkan masyarakat Aceh di tengah bencana, memberikan apresiasi atas Keramahan Aceh Bencana yang menginspirasi para relawan. (AntaraNews)

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyampaikan apresiasi mendalam atas tradisi luhur yang ditunjukkan oleh masyarakat Aceh di tengah situasi bencana. Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal Zakaria Ali, secara khusus menyoroti praktik 'peumulia jamee adat geutanyoe' yang berarti memuliakan tamu. Tradisi ini terbukti mampu memberikan semangat baru bagi para relawan dan petugas penanganan bencana di wilayah Aceh.

Apresiasi ini disampaikan Safrizal pada Sabtu, 28 Desember 2025, di Jakarta, menyusul observasinya terhadap kondisi di lapangan. Ia melihat langsung bagaimana warga terdampak musibah tetap menyuguhkan keramahan luar biasa kepada para penolong. Sikap tulus ini menjadi cerminan nilai-nilai budaya yang kuat di Bumi Serambi Mekkah.

Meskipun sedang menghadapi duka akibat banjir dan longsor yang melanda sejak awal Desember, masyarakat Aceh tetap berpegang teguh pada adat istiadat mereka. Mereka menyambut para relawan dan petugas dengan hati terbuka, menawarkan bantuan sekecil apa pun yang mereka miliki. Hal ini menunjukkan kekuatan mental dan spiritual warga Aceh dalam menghadapi cobaan.

Tradisi "Peumulia Jamee" di Tengah Bencana

Safrizal Zakaria Ali, yang juga merupakan Pj Gubernur Aceh periode 2024-2025, menjelaskan bahwa 'peumulia jamee adat geutanyoe' adalah tradisi yang dijalankan baik dalam suka maupun duka. Tradisi Aceh ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai luhur tetap dipegang teguh. Bahkan saat warga sendiri menjadi korban, Keramahan Aceh tetap terpancar kuat.

Ia mengaku terharu menyaksikan warga terdampak banjir masih menyempatkan diri menyajikan air kelapa atau durian kepada relawan. "Kalbu saya selalu bergetar menyaksikan warga terdampak banjir masih sempat-sempatnya menyajikan air kelapa atau durian kepada relawan yang membantu warga," kata Safrizal. Pemberian ini bukan karena relawan membutuhkan, melainkan sebagai tanda ucapan terima kasih yang tulus.

Contoh lain terlihat di Gayo Lues, di mana warga berlarian memberikan durian kepada personel TNI setelah menurunkan bantuan. "Padahal personel TNI tidak perlu diberikan karena itu sudah kewajiban negara," ungkap Safrizal. Namun, warga berpatokan pada adat istiadat mereka, memberikan apa yang mereka miliki sebagai bentuk penghargaan.

Dampak Positif Keramahan bagi Relawan dan Penanganan Bencana

Keramahan yang ditunjukkan oleh masyarakat Aceh ini diharapkan dapat memberikan semangat dan kesan positif bagi pihak yang memberikan pertolongan. Safrizal meyakini bahwa kesan baik ini akan mendorong lebih banyak pihak untuk mengulurkan tangan. "Dari kesan ini insya Allah akan lebih banyak lagi yang datang mengulurkan tangan kepada korban banjir dan longsor," ujarnya.

Para relawan dari berbagai daerah, organisasi, dan diaspora juga mendapatkan pengalaman berharga dari solidaritas ini. Mereka merasakan langsung kehangatan sambutan, bahkan dari korban bencana itu sendiri. Hal ini tidak hanya meringankan beban fisik, tetapi juga memberikan dukungan moral yang signifikan.

Kisah serupa dialami oleh Farwiza Farhan, seorang relawan yang masuk Majalah TIME. Setelah memberikan bantuan di Pidie Jaya, ia dan timnya mendapatkan suguhan air kelapa muda dari warga. Farwiza terharu karena warga yang sedang dalam musibah masih menunjukkan kepedulian dan Keramahan Aceh yang luar biasa.

Kondisi Bencana dan Upaya Penanganan Terkini

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu, 27 Desember 2025, bencana hidrometeorologi telah menyebabkan dampak serius. Tercatat 1.137 jiwa meninggal dunia, sementara 163 orang masih dalam pencarian. Kondisi ini menunjukkan skala besar dari musibah yang melanda.

Selain itu, sebanyak 457 ribu warga terpaksa mengungsi akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak awal Desember. Bencana ini berdampak pada 52 kabupaten/kota yang tersebar di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Upaya penanganan terus dilakukan untuk membantu para korban.

Safrizal menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah percepatan pendirian hunian sementara bagi para pengungsi. "Kita fokus kepada percepatan mendirikan hunian sementara yang mencapai sekitar 500 ribu pengungsi di tiga provinsi," jelasnya. Kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat sangat krusial dalam fase pemulihan ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi