Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengambil langkah tak biasa dalam menghadapi gejolak harga minyak dunia dan ancaman krisis energi. Sejak 28 Maret, pejabat di lingkungan Pemkot Mataram diimbau untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi menuju kantor. Kebijakan ini merupakan respons konkret terhadap tekanan global yang kini terasa hingga ke level kota.
Langkah ini bukan sekadar gaya hidup baru, melainkan sebuah keputusan strategis yang lahir dari realitas anggaran. Pemkot Mataram telah memangkas belanja bahan bakar minyak (BBM) kendaraan dinas hingga 50 persen untuk tahun 2026. Angka pemangkasan ini menunjukkan keseriusan pemerintah kota dalam beradaptasi dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Berbeda dengan pemerintah pusat yang menyiapkan skema kerja fleksibel seperti work from home (WFH) untuk mengurangi mobilitas, Mataram memilih jalur yang mendorong kehadiran fisik aparatur. Namun, kehadiran ini harus dilakukan dengan cara yang lebih hemat energi, memposisikan sepeda sebagai instrumen kebijakan publik yang menarik perhatian.
Advertisement
Advertisement
Secara teori, kebijakan sepeda bagi pejabat ini menawarkan sejumlah keuntungan yang jelas. Pengurangan penggunaan kendaraan dinas secara langsung akan menekan konsumsi BBM, berkontribusi pada penghematan anggaran yang signifikan. Selain itu, aktivitas bersepeda juga diharapkan dapat meningkatkan kesehatan aparatur, serta berpotensi mengurangi kemacetan di jalanan kota.
Namun, di balik logika efisiensi tersebut, terdapat dimensi kemanusiaan yang perlu dipertimbangkan secara mendalam. Tidak semua pejabat memiliki kondisi yang sama, seperti jarak tempuh rumah ke kantor, kondisi fisik, usia, atau bahkan faktor keamanan di jalan. Kebijakan yang tampak ideal di pusat kota bisa menjadi beban bagi mereka yang tinggal di pinggiran, menimbulkan pertanyaan tentang aspek keadilan.
Pemerintah Kota Mataram memang membuka ruang fleksibilitas untuk kegiatan tertentu dan berencana mengkaji radius jarak tempuh yang ideal. Namun, penting untuk memastikan bahwa keragaman kondisi individu aparatur dapat diakomodasi. Kebijakan yang baik tidak hanya berfokus pada penghematan anggaran, tetapi juga tidak mengorbankan aspek kemanusiaan dan kenyamanan para pelaksananya.
Advertisement
Di sisi lain, kebijakan ini membawa pesan simbolik yang kuat. Ketika pejabat bersedia bersepeda, hal ini memberikan teladan kepada masyarakat tentang pentingnya penghematan dan gaya hidup berkelanjutan. Pesan moral ini menunjukkan bahwa upaya penghematan dimulai dari jajaran pimpinan, bukan hanya dibebankan kepada masyarakat umum.
Advertisement
Pendekatan yang diambil oleh Mataram ini terasa kontras jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain seperti Jakarta. Di ibu kota, optimalisasi transportasi publik seperti MRT, LRT, dan Transjakarta menjadi fokus utama untuk menekan konsumsi BBM. Sistem transportasi terintegrasi ini memungkinkan aparatur tetap bekerja secara fisik tanpa terlalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Mataram, yang belum memiliki sistem transportasi publik terintegrasi sekomprehensif Jakarta, harus mencari solusi alternatif. Kebijakan sepeda ini menjadi pilihan menarik di tengah keterbatasan infrastruktur. Ini juga menegaskan bahwa setiap daerah memiliki konteks dan tantangan yang berbeda, sehingga tidak ada satu resep kebijakan yang bisa diterapkan secara seragam di seluruh wilayah.
Di tingkat nasional, wacana work from home (WFH) muncul sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak dunia, dengan potensi penghematan konsumsi BBM hingga seperlima dari penggunaan normal. Namun, kebijakan WFH juga berisiko terhadap kualitas layanan publik jika tidak dikelola dengan baik. Mataram memilih jalan tengah yang unik: tetap bekerja dari kantor, namun dengan cara yang lebih hemat energi.
Advertisement
Pilihan Mataram ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya menjaga kualitas pelayanan publik sekaligus merespons tekanan ekonomi global. Namun, efektivitas jangka panjang kebijakan ini masih perlu diuji. Pertanyaan muncul mengenai seberapa signifikan penghematan yang dihasilkan dibandingkan potensi efisiensi dari skema kerja fleksibel, serta apakah kebijakan ini dapat bertahan dalam jangka panjang.
Advertisement
Kebijakan sepeda bagi pejabat di Mataram memicu refleksi lebih luas tentang masa depan birokrasi dan respons terhadap krisis energi. Krisis ini seharusnya tidak hanya dijawab dengan langkah jangka pendek, tetapi juga dengan transformasi sistemik yang berkelanjutan. Langkah pertama yang krusial adalah penguatan infrastruktur pendukung.
Penyediaan jalur sepeda yang aman, fasilitas parkir yang memadai, serta insentif bagi aparatur yang konsisten menggunakan transportasi ramah lingkungan, dapat menjadi bagian penting dari kebijakan lanjutan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, semangat awal dari kebijakan ini berpotensi memudar seiring waktu.
Selanjutnya, pendekatan kebijakan perlu lebih adaptif dan mempertimbangkan keragaman. Skema kombinasi antara bersepeda, penggunaan transportasi bersama, dan opsi kerja fleksibel dapat menjadi solusi yang lebih realistis dan inklusif. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi tetap tercapai tanpa mengabaikan kondisi dan kebutuhan individu aparatur.
Advertisement
Terakhir, evaluasi berbasis data harus menjadi fondasi utama dalam mengukur keberhasilan kebijakan ini. Penghematan yang dihasilkan, dampaknya terhadap kinerja aparatur, serta persepsi masyarakat terhadap pelayanan publik, perlu diukur secara berkala. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang terus belajar dan beradaptasi berdasarkan data dan umpan balik yang akurat.
Sumber: AntaraNews