Ke Pansel, DPR pertanyakan sistem rekrutmen anggota KPU dan Bawaslu
Merdeka.com - Komisi II DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Panitia Seleksi (Pansel) anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) siang ini. Dalam rapat ini, Komisi II mempertanyakan proses dan mekanisme seleksi yang dilakukan Pansel hingga akhirnya memilih 14 calon anggota KPU dan 10 anggota Bawaslu.
Adapun Pansel KPU dan Bawaslu yang hadir di antaranya, Ramlan Subakti, Soedarmo, Harjono, Valina, Betti Alisjahbana, Nicolas TB Harjanto dan Komaruddin Hidayat.
Anggota Komisi II Fraksi PAN Yandri Susanto mempertanyakan dasar penilaian Pansel soal tidak lolosnya seluruh anggota Bawaslu petahana, termasuk Muhammad Bagus. Sementara, Pansel meloloskan seluruh anggota KPU petahana untuk kembali menjabat.
"Kalau semua anggota KPU petahana lolos dalam seleksinya namun mengapa semua anggota Bawaslu petahana tidak ada yang lolos padahal mereka paham soal kepemiluan," kata Yandri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (30/3).
Tidak lolosnya seluruh anggota Bawaslu petahana itu, kata Yandri, sama saja memvonis lembaga tersebut gagal menjalankan tugasnya. Yandri pun menilai banyak kejanggalan dalam proses seleksi anggota KPU dan Bawaslu baru.
"Ini menimbulkan gejolak memvonis Pansel tidak objektif, masa Ketua Bawaslu tidak lolos. Di tahap mana tidak lolos Pak. Ketua Bawaslu tugas udah terpublish Pak, Pansel memvonis Bawaslu gagal total," tegasnya.
Padahal, sejauh ini kinerja komisioner Bawaslu petahana dinilai cukup baik. Bahkan, Bawaslu dianggap sudah menguasai teknis kepemiluan serta mampu membangun sinergitas dengan DPR khususnya Komisi II DPR.
Untuk itu, Komisi II meminta penjelasan Pansel menyangkut keputusan tidak meloloskan anggota Bawaslu petahana.
"Nah ini penting enggak apa-apa sampaikan tahap mana mereka tidak lolos dan tidak cakap. Bawaslu itu sudah hatam, laporan mereka bagus-bagus kok. Saya setuju kalau tidak cakap tidak dipilih, tapi ini pertanyaan publik," ujar Yandri.
Sementara, Anggota Komisi II DPR Fraksi Partai Golkar, TB Ace Hasan Syadzily menambahkan, pihaknya meminta penjelasan soal sejumlah tes dan parameter yang digunakan Pansel terhadap calon-calon anggota KPU dan Bawaslu.
"Ekspektasi saya bagaimana tes psikologi dan ada scorenya seperti apa. Supaya tidak ada kecurigaan dalam proses seleksi tersebut sistem score seperti apa," ungkapnya.
"Saya bukan ahli psikolog tapi biasa melihat orang melakukan seleksi. Para akademisi tentu bisa menyampaikan kepada kami bagaimana proses-proses itu," sambung Ace.
Wasekjen Partai Golkar ini menyebut apabila Pansel bisa memaparkan parameter yang dipakai untuk menyeleksi calon anggota KPU dan Bawaslu dengan jelas, otomatis kecurigaan publik akan hilang.
"Kalau saja ada parameter yang bisa dipertanggungjawabkan dan kami dijelaskan maka publik bisa menilai jangan sampai kami tidak dijelaskan hal-hal semacam itu," pungkasnya.
(mdk/msh)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya