Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, baru-baru ini menyerukan seluruh kader untuk merespons bencana alam. Seruan ini disampaikan dengan kontemplasi mendalam serta gerakan nyata membantu masyarakat terdampak.
Arahan tersebut diberikan dalam acara Konferensi Daerah Dewan Perwakilan Daerah PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta di Yogyakarta. Hasto menekankan pentingnya filosofi menghargai kehidupan yang diajarkan oleh Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri.
Filosofi ini diyakini sebagai inti dari politik lingkungan hidup partai dalam menghadapi serangkaian bencana. Kejadian seperti banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dianggap sebagai tanda ketidakseimbangan alam yang serius.
Advertisement
Advertisement
Hasto menjelaskan bahwa filosofi menghargai kehidupan ini berakar kuat pada ajaran Bung Karno. Presiden pertama RI itu melarang izin konsesi hutan kepada korporasi besar. Ini menunjukkan komitmen terhadap kelestarian alam sejak awal.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri juga melanjutkan tradisi serupa dengan tidak mengizinkan penambahan konsesi lahan sawit. Ia bahkan menjadikan gerakan menanam pohon sebagai kultur partai yang wajib. Kebiasaan ini menjadi contoh nyata kepedulian terhadap lingkungan.
Hasto mencontohkan kebiasaan Megawati yang mengumpulkan biji salak, mangga, lengkeng, dan durian. Biji-bijian tersebut tidak dibuang, melainkan dipersiapkan lalu ditanam kembali. "Setiap biji-bijian, apalagi pohon punya hak untuk hidup," ujar Hasto, menegaskan nilai tersebut.
Advertisement
Tindakan sederhana ini berasal dari nilai Tat Twam Asi yang ditanamkan Bung Karno dan Megawati. Ajaran ini berarti "engkau adalah aku, aku adalah engkau," yang meluas hingga mencintai setiap elemen kehidupan. Pohon pun dianggap memiliki jiwa dan kehidupan yang perlu dirawat.
Advertisement
Hasto juga mengaitkan kerusakan lingkungan dengan sistem yang tidak adil. Ia menyoroti bagaimana kapitalisasi kekuasaan politik telah merusak lingkungan. Lahan-lahan hutan dikonversi menjadi lahan sawit secara masif.
"Padahal Ibu Mega mengatakan sawit adalah tanaman yang arogan,” tutur Hasto, mengutip pernyataan Megawati. Bencana alam, menurutnya, juga merupakan akibat dari ketiadaan keadilan. Ini termasuk penguasaan lahan dan lemahnya penegakan hukum terhadap tambang ilegal serta pembalakan liar.
Oleh karena itu, Hasto menekankan pentingnya "justice for all" atau keadilan untuk seluruh rakyat. Prinsip ini harus menjadi tema sentral dalam mengelola partai, bersikap sesama, dan dalam perspektif hukum. Keadilan harus ditegakkan demi keseimbangan alam dan sosial.
Advertisement
Sebagai langkah konkret, Hasto menginstruksikan kader PDIP di Yogyakarta untuk bergerak serentak membersihkan Kali Code dan Kali Winongo. Aksi ini akan dilakukan dalam rangka Hari Ulang Tahun Partai. Ia juga mengajak kader menjadikan kebiasaan Megawati mengumpulkan botol bekas untuk pengurusan tanaman sebagai tradisi PDIP.
Advertisement
Solidaritas sosial juga diwujudkan melalui pengumpulan dana yang akan digunakan untuk membantu rakyat terdampak bencana. Inisiatif ini menunjukkan komitmen PDIP dalam meringankan beban masyarakat. Bantuan ini diharapkan dapat menjangkau daerah-daerah yang paling membutuhkan.
Hasto meyakini bahwa dengan menginternalisasi filosofi menghargai kehidupan, kader dapat menjadi bagian dari solusi. Perjuangan keadilan ekologis adalah kunci untuk mengatasi ketidakseimbangan alam yang kini terjadi. Ini adalah panggilan bagi setiap kader untuk bertindak.
Dengan semangat gotong royong dan kepedulian lingkungan, PDIP berharap dapat memberikan dampak positif. Gerakan nyata ini diharapkan mampu mengembalikan harmoni antara manusia dan alam. Ini adalah wujud nyata dari politik lingkungan yang diusung partai.
Advertisement
Sumber: AntaraNews