Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian secara tegas menyatakan komitmennya untuk memperketat pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah (pemda). Langkah ini diambil terutama dalam hal pengelolaan anggaran daerah, dengan menyiapkan mekanisme penghargaan (reward) dan sanksi yang jelas.
Pengumuman penting ini disampaikan Tito Karnavian usai membuka Rapat Koordinasi Sinkronisasi Program Kementerian/Lembaga Non-Kementerian dengan Pemerintah Daerah. Acara tersebut berlangsung di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Senin, 27 Oktober.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk mendorong seluruh pemda agar lebih transparan, efisien, dan bertanggung jawab dalam penggunaan dana publik. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Mekanisme Pengawasan Berbasis Data dan Transparansi
Evaluasi kinerja Pemda akan dilakukan secara berkala melalui Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD), sebuah platform yang menampilkan data realisasi pendapatan dan belanja secara real-time. Sistem ini memungkinkan Mendagri untuk memantau secara langsung kondisi keuangan setiap daerah.
“Saya bisa memantau mana pemda yang pendapatannya tinggi dan belanjanya tinggi. Itu artinya roda ekonomi di daerahnya berputar,” kata Tito Karnavian, menjelaskan bagaimana SIPD menjadi alat vital dalam pengawasan kinerja Pemda.
Sebagai bentuk transparansi, Kemendagri akan mengumumkan daerah dengan kinerja keuangan terbaik dan terburuk setiap dua pekan sekali. Pengumuman ini akan disiarkan secara terbuka melalui Zoom dan YouTube, memungkinkan publik untuk ikut serta dalam pemantauan kinerja Pemda.
Advertisement
Langkah ini sejalan dengan proses pengalihan transfer keuangan daerah (TKD) yang menuntut Pemda lebih mandiri. Daerah diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan menyesuaikan belanja secara seimbang untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Advertisement
Sistem Penghargaan dan Sanksi untuk Akuntabilitas
Mendagri Tito Karnavian menegaskan bahwa daerah yang menunjukkan pendapatan tinggi dan realisasi belanja yang seimbang akan menerima penghargaan berupa insentif. Insentif ini diharapkan menjadi motivasi bagi Pemda untuk terus meningkatkan kinerja.
Sebaliknya, Pemda yang memiliki kinerja buruk akan mendapatkan peringatan dan pendampingan khusus dari Kemendagri. Pendampingan ini bertujuan untuk membantu daerah memperbaiki tata kelola anggaran dan kinerja fiskalnya.
“Yang terbaik itu pendapatan tinggi dan belanja tinggi. Kalau pendapatan tinggi tapi belanja rendah, berarti programnya tidak berjalan. Kalau pendapatan rendah dan belanja tinggi, itu defisit. Sementara, kalau dua-duanya rendah, rakyat yang akan kesulitan,” jelas Tito mengenai berbagai skenario kinerja Pemda.
Advertisement
Melalui penerapan sistem penghargaan dan sanksi ini, Tito berharap akan muncul kompetisi positif antar daerah. Kompetisi ini diharapkan mampu mendorong perbaikan tata kelola anggaran dan peningkatan kualitas pembangunan di seluruh Indonesia.
Advertisement
Peran Tim Khusus dan Sinergi Program Nasional
Untuk memperkuat pengawasan kinerja Pemda, Mendagri Tito Karnavian juga membentuk tim khusus dari Kemendagri yang akan diterjunkan langsung ke daerah-daerah. Tim ini dibagi menjadi tiga wilayah pengawasan besar untuk efektivitas.
Jawa dan Sumatera diawasi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, sementara Kalimantan dan Sulawesi berada di bawah pengawasan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus. Adapun wilayah Indonesia Timur diawasi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk.
“Sekarang saya punya tiga wakil menteri, jadi lebih mudah untuk mengawasi. Kalau ada daerah yang kinerjanya buruk, segera didatangi. Yang baik akan kami beri penghargaan,” ujar Tito, menyoroti efisiensi dengan adanya tim pengawasan yang terbagi.
Advertisement
Selain pengawasan, Tito juga meminta jajaran Pemda untuk menyelaraskan program daerah dengan program unggulan pemerintah pusat, seperti Makan Bergizi Gratis, Program Swasembada Pangan, dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Program-program ini sejalan dengan visi ekonomi Pancasila Presiden Prabowo, yang menekankan peran aktif pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan melindungi masyarakat kecil. “Pemerintah tidak boleh menyerahkan sepenuhnya mekanisme ekonomi kepada pasar. Negara harus hadir untuk menjaga harga dan melindungi rakyat kecil,” tegas Tito.
Sumber: AntaraNews