Analis komunikasi politik Hendri Satrio menyoroti sebuah momen penting yang melibatkan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad. Keduanya terlihat berbaur dengan pengamen jalanan setelah menyaksikan pertandingan sepak bola. Momen ini diunggah melalui video di Instagram Raffi Ahmad, menarik perhatian publik luas dan memicu diskusi tentang kepemimpinan yang merakyat.
Menurut Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensa, interaksi tanpa jarak ini menjadi contoh nyata kepemimpinan yang lebih manusiawi. Pejabat dapat merasakan langsung kehidupan rakyat dan memahami sisi emosional serta sosial masyarakat. Pengalaman langsung seperti itu krusial untuk membangun empati dan koneksi yang mendalam dengan konstituen.
Hensa, pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, menegaskan bahwa momen seperti ini seharusnya ditiru oleh pejabat lainnya. Ini bukan sekadar tentang pencitraan semata, melainkan tentang mencicipi realita yang sehari-hari dialami jutaan orang. Momen sederhana ini menunjukkan betapa kecilnya hal yang dapat membuat warga bahagia, memberikan perspektif berharga bagi para pemimpin.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Kedekatan Pejabat Berbaur Rakyat dengan Masyarakat
Hendri Satrio menekankan bahwa kehadiran pejabat di tengah masyarakat tanpa jarak protokoler adalah cerminan kepemimpinan yang ideal. Interaksi langsung memungkinkan pejabat untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan kondisi riil yang dihadapi rakyat secara langsung. Hal ini penting untuk pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berpihak kepada kepentingan publik.
Pengalaman berbaur dengan pengamen jalanan, seperti yang ditunjukkan oleh Teddy dan Raffi, memberikan ruang bagi pejabat untuk memahami dinamika sosial dan ekonomi. Mereka dapat melihat langsung bagaimana masyarakat kecil mencari nafkah dan merayakan kemenangan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan hanya dari laporan di meja kerja atau data statistik.
"Pejabat yang datang tanpa jarak protokoler dan mau ikut berbaur menunjukkan bentuk kepemimpinan yang lebih manusiawi," kata Hensa dalam keterangannya di Jakarta. Ia menambahkan bahwa momen ini adalah contoh nyata pejabat yang turut merasakan kegembiraan masyarakat kecil, memperkuat ikatan antara pemimpin dan yang dipimpin, serta membangun kepercayaan publik.
Advertisement
Advertisement
Menepis Stigma Pencitraan Positif
Hensa mengakui bahwa momen-momen serupa jarang dilakukan oleh pejabat pemerintah karena kekhawatiran akan dicap sebagai pencitraan. Stigma ini seringkali menahan pejabat untuk tampil apa adanya di ruang publik, padahal interaksi semacam itu memiliki potensi positif yang besar untuk membangun citra yang baik dan relevan di mata publik.
Meskipun ada potensi tuduhan pencitraan, rekaman momen Teddy dan Raffi berinteraksi dengan pengamen justru bisa menjadi catatan positif yang tersimpan lama di benak publik. Catatan ini membangun persepsi positif tentang kepedulian dan kerendahan hati pejabat. Ini adalah investasi sosial yang berharga, menunjukkan bahwa pemimpin peduli terhadap kehidupan rakyatnya.
"Lebih baik dituduh pencitraan karena bernyanyi bersama pengamen daripada tidak pernah tahu bagaimana rasanya merayakan kemenangan kecil bersama-sama. Pencitraan itu boleh-boleh saja, selama output-nya positif," ujar Hensa. Pernyataan ini menegaskan bahwa tujuan akhir dari tindakan tersebut jauh lebih penting daripada label yang mungkin disematkan, selama memberikan dampak yang baik bagi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Tanggung Jawab Pejabat di Balik Kedekatan
Kendati demikian, Hendri Satrio juga mengingatkan akan perlunya keseimbangan antara kehadiran spontan di publik dan tanggung jawab kinerja yang diemban. Kedekatan dengan rakyat harus menjadi pendorong, bukan pengganti, dari komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan pelaksanaan tugas pokok serta fungsi pejabat.
Hensa berharap lebih banyak pejabat menunjukkan keberanian serupa untuk berinteraksi langsung dengan rakyat. Namun, ia juga menegaskan pentingnya komitmen yang lebih dalam terhadap peningkatan kualitas hidup rakyat. Interaksi sosial harus berjalan seiring dengan kinerja yang konkret dan hasil nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
"Perlu diingat kalau sudah menyatu dengan rakyat juga jangan lupa akan tanggung jawabnya dalam mensejahterakan mereka, itu penting dan kerap luput jika sudah memiliki massa," ucap Hensa. Pesan ini menggarisbawahi bahwa popularitas yang didapat dari kedekatan harus diiringi dengan dedikasi nyata untuk melayani dan mensejahterakan rakyat, serta tidak melupakan tugas utama sebagai abdi negara.
Advertisement
Sumber: AntaraNews