AHY menilai praktik cawe-cawe harus dicegah bersama agar demokrasi tidak mundur
Advertisement
Dia menilai, instrumen kekuasaan negara yang ikut cawe-cawe akan sangat berbahaya bagi demokrasi.
"Kalau cawe-cawe itu melibatkan instrumen kekuasaan negara dan dinilai tidak adil, jelas nasib demokrasi kita dalam bahaya,"
kata AHY dalam pidato kebangsaan, Jumat (14/7).
Advertisement
Merdeka.com
AHY mengatakan, praktik cawe-cawe harus dicegah bersama. Sebab, cawe-cawe seorang pemimpin itu akan membuat demokrasi Indonesia mundur. "Jangan biarkan kemunduran demokrasi semakin dalam. Jangan terulang prahara besar, seperti tahun 1965-1966; dan tahun 1998-1999 dulu. Jangan kita lukai perasaan rakyat, agar mereka tidak menempuh caranya sendiri, dalam memperjuangkan keadilan dan hak politiknya," ujarnya.
Untuk itu, dia mendorong adanya kebebasan untuk masyarakat dan menjadi hak rakyat di Pemilu 2024 mendatang. "Untuk itu, kita harus mengembalikan ruang kebebasan untuk rakyat, termasuk kemerdekaan pers. Kita juga harus menjamin hak rakyat untuk berbicara dan berpartisipasi dalam kehidupan bangsa, sesuai konstitusi. Hentikan represi negara terhadap rakyat. Tingkatkan kualitas demokrasi, berdasarkan nilai kebebasan, keadaban dan kemanfaatan," imbuh AHY.
Advertisement
Advertisement
Menurutnya, cawe-cawe itu menjadi tanggung jawab moralnya dalam masa transisi kepemimpinan nasional di tahun 2024.
"Cawe-cawe saya sudah sampaikan, bahwa saya menjadi kewajiban moral menjadi tanggung jawab moral saya sebagai presiden dalam masa transisi kepemimpinan nasional di 2024,"
kata Jokowi di Sekolah DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (6/6).
Advertisement
Jokowi merasa perlu cawe-cawe untuk menjaga transisi kepemimpinan nasional agar berjalan baik tanpa ada riak-riak yang membahayakan negara dan bangsa. Maka dari itu, dirinya tidak akan diam dan memilih cawe-cawe. "Harus menjaga agar visi kepemimpintan nasional serentak, pilpres bisa berjalan dengan baik tanpa ada riak-riak yang membahayakan negara dan bangsa. Masa riak-riak yang membahayakan saya disuruh diam, enggak lah," ujarnya.
Sikap Jokowi tersebut direspons Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan sebuah buku berjudul 'Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi.
Salah satu isu yang diulas SBY yakni dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap sejumlah capres, akan menjadi masalah jika capres lain tidak bisa maju dalam pilpres 2024.
Advertisement
Advertisement
SBY mengatakan cawe-cawe itu akan bermasalah apabila meminta para ketum partai politik dengan ancaman untuk mencegah munculnya Capres dan Cawapres ketiga. "Apabila Pak Jokowi bersama pembantunya-pembantunya bekerja secara all out agar para pemimpin parpol yang berada dalam koalisi pemerintahan Presiden Jokowi tidak membentuk pasangan ketiga disertai se-macam ancaman, ya inilah yang bisa menjadi masalah," kata SBY dalam buku berjudul 'Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi' dikutip merdeka.com, Senin (26/6).
Advertisement
Informasi itu muncul dari pengakuan elite-elite partai politik.