Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meninjau standar dan proses penyediaan Makanan Bergizi Gratis (MBG) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (6/2). Saat meninjau, SPPG Somba Opu Gowa menyajikan menu Spaghetti.
Melihat menu Spagetti yang disajikan SPPG Somba Opu,pria yang akrab disapa Zulhas ini mengenang masa sekolah dulu. Ia menyebut tidak mengenal makanan Spaghetti saat zaman sekolah dulu.
"Tadi kita lihat di dalam, hari ini menunya yang dulu waktu zaman saya sekolah belum pernah kenal, namanya Spaghetti," ujarnya kepada wartawan.
Dia pun merespons baik menu itu. Kata Zulhas, SPPG harus bisa menyesuaikan menu dengan selera anak. Selain Spaghetti, Zulhas menyebut menu Chiken Teriyaki juga digemari murid.
"Jadi anak-anak muda sekarang, SMA, SD, SMP sudah mengenal ada Spaghetti, ada Chicken Teriyaki. Jadi SPPG-nya menyesuaikan dengan selera anak-anak," kata Zulhas.
Advertisement
Meski demikian, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengingatkan kepada SPPG untuk mengedepankan nilai gizi pada menu MBG seperti protein dan karbohidrat. Apalagi, setiap SPPG sudah ada ahli gizinya.
"Jadi setiap SPPG sekarang sudah ada ahli gizinya, jadi semua yang dimasak sesuai dengan kebutuhan anak-anak kita agar tumbuh sempurna, juga tumbuh otaknya juga sempurna," kata Zulhas.
Sementara untuk menu saat hari libur, Zulhas menyebut agar dalam bentuk kering. Ia mencontohkan makanan kering seperti roti, buah-buahan, kacang, dan susu.
"Besok Sabtu, karena enggak masuk sekolah, sekalian itu dalam bentuk kering, ya. Ada proteinnya, ada karbohidratnya, ada buahnya. Jadi saya lihat tuh ada susu, kacang, roti dua, sama buah-buahan," tuturnya.
Advertisement
Sementara terkait menu saat Ramadan, Zulhas menegaskan program MBG tetap berjalan. Hanya saja, saat Ramadan nanti sistem pembagian MBG berubah khusus untuk sekolah berbasis agama Islam.
"Jadi (program MBG) Ramadan tetap berjalan. Bagi sekolah-sekolah yang beragama Islam, kan datang anaknya sekolah kan, tapi berpuasa. Nanti waktu pulang diberikan makan dalam bentuk kering seperti tadi," tuturnya.
"Misalnya telur rebus kan kering ya. Susu, roti, kurma misalnya, itu kering. Jadi dalam bentuk kering," kata Zulhas.
Tetapi untuk daerah yang mayoritas non-muslim, kata Zulhas, sistem pembagian MBG tetap seperti biasa. Ia mencontohkan daerah seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Tetapi yang daerah-daerah yang siswanya itu tidak berpuasa seperti di NTT misalnya, di Papua, dia seperti biasa. Dapat makan seperti biasa," ungkapnya.
"Tapi kalau di pondok-pondok, ya pondok-pondok pesantren, itu jamnya berubah. Biasanya dikasih siang, ini ngasihnya pas buka puasa, jadi waktunya yang bergeser," pungkasnya.