Waspadai Propaganda Kelompok Garis Keras di Tengah Konflik Global Iran Vs Israel
Konflik global ada kepentingan lain seperti ideologi, ekonomi, politik dan sebagainya.
Rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Israel melesat di langit malam seperti yang terlihat dari Deir al-Balah, Jalur Gaza, Selasa (1/10/2024). (Dok. AP/Abdel Kareem Hana)
(@ 2024 merdeka.com)Konflik global Iran dan Israel menyita perhatian publik. Tetap harus diwaspadai konflik global dimanfaatkan kelompok garis keras untuk menyebarkan ideologi, propaganda, perekrutan hingga pengumpulan donasi.
Mantan narapidana terorisme (napiter), Arif Budi Setyawan mengakui kesalahannya di masa lalu membuat lebih bijak menyikapi sebuah isu. Menurutnya, konflik di Timur Tengah, bukan semata karena agama melainkan ada kepentingan lain seperti ideologi, ekonomi, politik dan sebagainya.
"Perang itu pasti punya motif politik dan ekonomi. Perang itu butuh energi, butuh pasukan, dan butuh motivasi yang kuat. Motivasi agama memang sering digunakan untuk menggerakkan orang untuk berperang," ujar Arif dalam keterangannya, Rabu (18/6).
Menurut Arif, masih adanya narasi ekstrem di media sosial berpotensi memecah belah masyarakat. Tentunya ini akan berpotensi terjadinya polarisasi di masyarakat yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Narasi itu ke mana arahnya? Tidak serta merta langsung mengiyakan, menyetujui, tapi berpikir kritis dengan mempertanyakan apa akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? ujar pria 43 tahun asal Tuban, Jawa Timur ini.
Mantan simpatisan Jamaah Islamiyah ini mengemukakan pola narasi yang kerap dimainkan oleh kelompok garis keras. Narasi yang dibangun sering kali menyederhanakan konflik menjadi pertarungan hitam-putih, sehingga menutup ruang untuk analisis yang jernih dan dialog yang konstruktif.
Dia mencontohkan, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan kelompok pendukungnya akan membawa narasi konflik global ke arah penegakkan syariat atau pendirian negara Islam. Kemudian, kelompok mantan Jamaah Islamiyah akan membawa narasi konflik ini sebagai peluang untuk membangun jihad global.
"Misalnya ISIS, meskipun menggunakan narasi agama tujuannya tidak murni untuk membela Islam, tetapi lebih kepada penguasaan wilayah dan kekuasaan global. Ini adalah bagian dari permainan politik internasional," kata Arif yang kini aktif menulis untuk pencegahan ekstremisme dan terorisme.
Oleh karena itu, penulis buku 'Internetistan Jihad Zaman Now' ini menekankan kewaspadaan dalam bertindak di tengah masifnya informasi di media sosial.
Arif mengklaim, boleh untuk memiliki sikap dan pandangan terhadap suatu isu, menaruh simpati dan memberikan donasi. Namun masyarakat perlu juga menyelaraskan pandangan politik resmi negara dan melakukan donasi kepada lembaga yang terverifikasi.
"Karena konflik antar-negara jika disikapi secara individu, kemudian mengirimkan kader (berhijrah) bisa jadi nanti terjebak seperti fenomena ISIS," tandas Arif.