Wartawan di Surabaya Desak Jokowi Batalkan Remisi untuk Pembunuh Prabangsa

Jumat, 25 Januari 2019 16:05 Reporter : Erwin Yohanes
Wartawan di Surabaya Desak Jokowi Batalkan Remisi untuk Pembunuh Prabangsa Demo wartawan di Surabaya. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejumlah wartawan di Surabaya memprotes keras kebijakan Presiden Joko Widodo terkait remisi pada I Nyoman Susrama, narapidana kasus pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Pemberian remisi ini, dianggap telah menciderai rasa keadilan bagi keluarga almarhum dan insan pers.

Protes keras ini salah satunya disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Surabaya. Dengan membawa sejumlah poster yang berisi protes terhadap kebijakan remisi, mereka menggelar aksi demonstrasi damai di depan gedung Grahadi Surabaya.

Ketua AJI Surabaya, Miftah Faridl menyatakan, pemerintah menggunakan dalih Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 174 Tahun 1999 tentang remisi, untuk memberikan remisi kepada Susrama, terpidana penjara seumur hidup. Remisi yang diberikan menjadikan hukuman dari penjara seumur hidup berubah menjadi 20 tahun penjara.

"Jika setelah ini ia mendapatkan remisi lain lagi dan pembebasan bersyarat, maka Susrama bisa menghirup udara bebas," ungkapnya, Jumat (25/1).

Ia menambahkan, pemberian remisi semacam ini ditakutkan akan dapat mendorong kekerasan baru terhadap jurnalis di kemudian hari. Pihaknya khawatir, hak publik untuk tahu soal kasus-kasus korupsi aparat penyelenggara negara akan berakhir dengan tindak kekerasan semacam kasus Prabangsa ini.

"Pemberian remisi ini merusak perjuangan yang dilakukan kelompok masyarakat sipil dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mengavokasi kasus pembunuhan ini. Perlu waktu berbulan-bulan untuk mendorong aparat penegak hukum mengungkap kasus ini," tambahnya.

Ia menegaskan, pengungkapan kasus Prabangsa membawa harapan baru bagi penegakan hukum kasus kekerasan terhadap jurnalis. Sebut saja kasus pembunuhan wartawan Udin, asal Yogyakarta pada 1996 tak kunjung dituntaskan. Kasus kekerasan lain, Ghinan Salman penuntasannya juga berlarut-larut.

"Remisi ini kami nilai sebagai bentuk lain dari impunitas dan pengampunan. Praktik impunitas melalui remisi, menjadi preseden bahwa pelaku kekerasan terhadap jurnalis dan kebebasan pers, mudah mendapatkan pengampunan," katanya.

Terkait dengan hal itu AJI Surabaya menuntut pada Presiden Joko Widodo, agar mencabut atau membatalkan remisi terhadap terpidana kasus pembunuhan wartawan. Ia juga mendesak pada pemerintah, agar menuntaskan kasus-kasus kekerasan terhadap para jurnalis.

Untuk diketahui, wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. dibunuh pada 11 Februari 2009. Jasad Prabangsa dibuang ke laut dan baru ditemukan pada 16 Februari 2009 di perairan Padang Bai, Karangasem, Bali. Pembunuhan Prabangsa ini terkait dengan berita tentang dugaan korupsi yang dilakukan Susrama di proyek Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli. [cob]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini